Era Politik Moral

10.44

Kata politik selalu berhubungan erat dengan seni merebut ataupun mempertahankan kekuasaan. Suasana kehidupan yang kita alami saat ini adalah buah dari percaturan politik para pemainnya. Sering terbesit dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa politik adalah sesuatu yang sangat kotor dan pasti banyak menimbulkan permusuhan, apakah memang begini adanya?
Dalam berkehidupan berbangsa sekarang ini, Indonesia merupakan hasil dari gado-gado politik era lampau, yang entah kebenaran sejarahnya sesuai dengan yang terjadi di lapangan saat itu ataupun tidak, namun ada sebuah hal yang sangat penting dari itu. Dalam era kemerdekaan yang telah mencapai 63 tahun, apakah sudah ada perubahan secara mendasar dalam sikap berpolitik warga Indonesia? Rupanya jawaban untuk pertanyaan ini sangat mudah, tinggal lihat saja bagaimana tingkat pendidikan dan pemerataanya di berbagai daerah.
Ada hal yang menarik, saat suatu daerah mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka kesadaran berpolitik di sana juga cukup tinggi. Dalam hal melihat kesadaran berpolitik kita tidak hanya dapat menilai secara diametral bahwa kesadaran berpolitik dinilai berdasarkan kemauan warga memilih salah satu opsi poltik yang ada. Kesadaran politik lebih menitikberatkan pada kemampuan warga untuk melihat perkembangan politik serta menentukan pilihan secara rasional memang jauh lebih baik dari opsi politik lain yang ada.
Dalam era pasca reformasi sekarang ini, tentunya opsi politik yang ada sangat banyak, namun sejauh ini opsi politik mayoritas yang dipilih rakyat Indonesia belum atau bahkan tidak mampu mengkatrol angka bersaing bangsa ini di depan bangsa lain dalam berbagai bidang. Ada sebuah jawaban konkrit mengapa hal itu terjadi, selama ini opsi politik mayoritas menganaktirikan “moral” dalam kehidupan berpolitik. Menjadi sebuah pendeskreditan pada sebuah realita kebenaran, bila moral dalam etika berpolitik dihilangkan.
Era politik moral sekarang telah memasuki era baru, di mana terlihat opsi politik usang yang berkuasa telah kehilangan kepercayaan di kota-kota besar yang mayoritas warganya berpendidikan lebih baik. Sekarang terlihat dengan jelas bagaimana korelasi pilihan politik dengan tingkat pendidikan warganya. Ada hal yang seharusnya berubah, yaitu sikap berpolitik yang harus mengedepankan moral, di mana pilihan terbaik harus dibenturkan pada realita yang ada di masyarakat, apakah akan ada sebuah benturan yang sangat merugikan masyarakat atau tidak. Karena itu dalam proses politik di manapun, seorang pemain hendaknya mampu memilah kepentingan politik dan masyarakat.
Pemikiran ke arah itu rupanya sudah mulai terlihat, namun untuk dapat memapankannya akan butuh waktu yang lama, karena akan selalu ada usaha untuk “pemaqzulan” pendidikan politik di kalangan masyarakat. Hal ini jelas akan sangat menghambat kemajuan masyarakat sebagai subjek dan objek politik. Contoh yang sangat jelas adalah bagaimana tingkat pendidikan yang sangat tidak merata dan mutunya yang jauh dari layak. Terang saja hal ini dipertahankan, karena bila pendidikan di Indonesia terlampau maju, maka para penguasa ranah politik saat ini akan segera menggali kuburannya sendiri.
Jika dilihat secara historis, perjuangan di ranah poltik memang sangat berat. Lihat saja bagaimana era Soekarno dalam jangka waktu 1950-1959 mengalami pergantian kabinet sampai 7 kali, artinya ada kompromi politik yang mengalami banyak benturan. Hal ini memperlihatkan adanya politik dagang sapi dalam parlemen, sehingga terjadi pergantian yang mengisyaratkan pemaksaan kepentingan masing-masing kelompok. Hal inilah salah satu penyakit di negeri ini, tidak hanya di lingkaran politik nasional bahkan menjalar sampai wilayah kampus, apapun akan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, bahkan berkhianat terhadap perjanjian atas nama Tuhan.
Inilah kondisi moral para “pejuang” politik di Indonesia, namun para pejuang yang berjalan di atas rel peradaban dan moral manusia akan tetap ada, meskipun sulit mencari keberadaannya. Karena itulah sudah saatnya mengubah arah sikap politik kita, menuju keberpihakan moral yang utama. Semoga apa yang diharapkan para pejuang bangsa yang gugur di medan laga dapat diwujudkan oleh generasi muda.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images