Bila Da'i tak Berilmu

20.55


Kemarin malam saya menonton film berjudul The Message, sebuah film yang mengisahkan perjuangan Nabi Muhammad dalam memulai menyebarkan islam. Meski film ini dibuat oleh orang non-muslim tetapi cukup menyuguhkan sebuah fakta tentang bagaimana cara islam memandang manusia.

Secara cerita, film ini tidak melenceng karena dalam pembuatannya memang didampingi oleh ulama dari Al Azhar Mesir, namun tetap saja ada beberapa hal yang kurang pas, seperti penyebutan God ketimbang Allah. Terlepas dari berbagai kekurangannya, ada hal penting yang bisa kita ambil dan pedomani bersama, yaitu tentang the way of islam. Apa itu islam, nyatanya umat islam sendiri tidak begitu mengerti dengan agamanya.

Di jaman global ini, banyak factor yang membuat islam terdeviasi saat sampai di umatnya, meski kita tahu bersama segala perbedaan yang bersifat furuq tidak perlu menjadi sebuah perdebatan panjang, karena persatuan umatlah yang lebih penting. Cerita film yang tidak jauh dari Sirah Nabawiyah membuat saya sadar ada banyak hal yang hilang dalam generasi islam dewasa ini.

Contohnya, ukhuwah dan persatuan. Hal ini menjadi sangat penting untuk bisa mempertahankan prinsip secara komunal dan untuk terus memperbanyak para pengikut islam. Bisa dibilang semacam Harokatul Tajdid, sebuah proses pengkaderan terjadi dalam suasana ukhuwah yang terjaga.

Siasat atau siyasi dalam berdakwah. Dewasa ini tidak banyak ormas islam yang secara serius melihat siyasi syariah sebagai pedoman dalam berdakwah. Contoh dalam peristiwa Fathu Mekah, Nabi Muhammad bersedia untuk membuat perjanjian Hudaibiyah yang secara jelas sangat merugikan umat islam, bahkan Umar bin Khatab sempat mempertanyakan keputusan Rasul. Ternyata perhitungan Nabi Muhammad tidak meleset, dengan umat yang terjaga keimanannya beliau yakin umat islam tidak akan melanggar isi perjanjian, sedangkan bani quraisy dalam kurun waktu singkat melanggar perjanjian hudaibiyah yang mengakibatkan dukungan besar-besaran dari kabilah-kabilah kafir kepada umat islam yang diikuti dengan proses memeluk islam secara massif.

Dengan adanya fakta sejarah yang nyata ini seharusnya umat islam bisa dan mau berijtihad lebih dalam dan maju untuk kemajuan umat. Banyak ulama yang terkungkung dalam dakwahnya untuk membatasi materi hanya Al Quran dan hadits, dengan menafikan sejarah serta kitab para ulama, sehingga menimbulkan kejumudan intelektual di sebagian umat islam.

Bagi saya ada satu hal sederhana tapi menjadi sangat penting, yaitu belajar sejarah. Ulama-ulama besar banyak yang mahir dalam sejarah dan tidak meninggalkannya, karena khasanah ilmunya sangatlah luas, bisa mencakup ilmu alam dan social. Bahkan seorang Soekarno berkata jangan sakali-kali melupakan sejarah. Lalu mengapa kita begitu saja lupa dengan sejarah, yang merupakan salah satu pintu ijtihad kita.

Dengan saringan tarbiyah yang kuat, maka saat ilmu-ilmu itu masuk dan datang yang terjadi adalah kematangan dakwah insane, yang bisa berlanjut menjadi kematangan dakwah komunal. Banyak juga umat islam tanpa ruhiyah yang kuat dalam menghadapi fakta sejarah maupun pemikiran lampau, yang terjadi adalah kemurtadan fikrah dan aqidah. Hal inilah yang saat ini sedang menggempur uamt islam dunia, terlebih khusus Indonesia.

Bila para kader dakwah dan para da’i saja tidak benar-benar tahu tentang sejarah umat islam dan beserta ilmu yang datang bersamaan dengan tumbuhnya islam, maka yang terjadi adalah RUNTUHNYA DAKWAH DI TANGAN PARA DA’I. Padahal jargon nahnu du’at qobla kulli syai, kita adalah da’I sebelum menjadi apapun, sangatlah menggema dan menghujam dalam jiwa raga kita kader dakwah.

Ketiadaan ilmu ini mengakibatkan runtuhnya sebuah jamaah-dalam skala kecil, dalam skala besar bisa meruntuhkan peradaban. Lihat saja apa yang terjadi pada Khilafah Umayyah dan Abbassiyah yang hancur karena hilangnya sebuah semangat untuk berilmu. Bila dalam sebuah jamaah bisa dianalogikan dengan hancurnya jamaah karena kurang terampilnya seorang pemimpin.

Harusnya kita sadar bahwa perintah Allah dalam Al Quran adalah Iqra, baca. Apakah kita lupa atau tidak mau tahu, bahwa salah satu esensi dalam dakwah adalah menyampaikan ilmu dan kebenaran. Bayangkan saja bila para dai penyeru dakwah islam tidak tahu esensi dan substansi dakwah mereka, yang ada adalah umat yang didakwahi akan kecewa dengan dakwah itu sendiri, karena diusung oleh orang-orang yang cekak pengetahuannya dan keluasan amanahnya.

Bagi saya dalam dakwah ini kita sering kali lupa, bahwa secara harfiah manusia itu senang dengan orang yang berwawasan dan terampil dalam banyak hal. Bila dakwah ini hanya diurus oleh orang-orang yang rajin ibadanya, tetapi kurang mempunyai ilmu, maka yang ada adalah kejatuhan dakwah di depan umat. Jadi marilah kita melihat sejarah dan ilmu dengan lebih arif dan bijaksana agar dapat kita amalkan, tanpa perlu memakai KACAMATA KUDA.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images