Dakwah Parlemen vs Neo Khawarij

22.16


Kemarin saya membaca sedikit tentang pemikiran dan dakwah oleh Ibnu Taimiyah, yang menurut saya berbagai pemikirannya masih sangat relevan untuk saat ini. Lalu sekilas saya jadi teringat dengan pesan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, bahwa kebenaran dan dakwah islam bisa unggul dan leading di tengah masyarakat jika ada usaha membumikan islam dengan buku serta ada kekuatan politik islam yang bisa memegang kekuasaan.

Ada korelasi ataupun benang merah antara Ibnu Taimiyah dengan Prof.Ahmad Mansur Suryanegara dalam hal kekuasaan dan politik, keduanya tidak "mengharamkan", bahkan harus ada pemurnian atau purifikasi kekuasaan, sehingga kekuasaan menjadikan dakwah islam sebagai caranya. Ibnu Taimiyah berkali-kali dipenjara karena sikap dan suaranya yang menentang kebijakan penguasa yang waktu itu cenderung dikuasai kaum mu'tazilah.

Indonesia sekarang ini kondisinya hampir sama, dikuasai oleh kalangan liberal, yang liberalnya dari ekonomi, politik sampai agama. Kekuatan umat islam sebanarnya bisa muncul dari kekuatan para pemudanya, tapi yang patut dicermati adalah bagaimana caranya untuk memainkan peran para pemuda islam untuk melakukan perubahan yang berbasis tauhid. Proses dakwah thulabi telah berjalan meski belum maksimal. Lalu kekuatan politik islam yang terfragmentasi nyatanya belum juga mampu memainkan perannya secara signifikan.

Yang perlu digaris bawahi dari Ibnu Taimiyah dan Ahmad Mansur adalah umat islam harus memiliki peran politik yang kuat dalam sebuah negara, untuk meluruskan segala macam hal yang merugikan umat. Kekuatan politik islam harus sadar bahwa medan pertempuran bisa berbentuk apapun, termasuk demokrasi. Masalah bertambah rumit karena ada saja kekuatan umat yang menentang perjuangan lewat medan demokrasi, mereka yang menentang ini lebih mempoposikan dirinya sebagai oposan yang radikal daripada pengkritik yang cerdas.

Kita tidak perlu kaget, karena orang2 semacam ini sudah ada sejak jaman sahabat, sebut saja khawarij. Sekelompok fanatik yang membunuh Ali Ra, hanya karena mau berunding dengan Muawiyah. Di era modern sekarang ini banyak juga kelompok islam yang pemikiran serta aksinya bercorak khawarij. Contohnya Al Qaeda, Salafi, Wahabi. Mengapa gerakkan mereka bercorak khawarij??? Karena mereka seringkali menolak berntuk perjuangan melalui parlemen dan demokrasi, yang bagi mereka haram hukumnya.

Padahal saat ini umat islam sebagian besar masih terjajah dalam bentuk pemerintahan boneka asing. Bagi NEO KHAWARIJ ini perjuangan hanya melalui "jihad" bersenjata, padahal RAsul lebih menghendaki jihad pena yang tanpa pertumpahan darah. Tentunya kita ingat bagaimana Fathu Mekah, sebuah peristiwa pengambilalihan Mekah oleh Islam tanpa pertumpuhan darah. Sebelumnya Rasul bersepakat dengan Quraisy melalui perjanjian Hudaibiyah. Artinya disini diperlukan siasat dan strategi jitu untuk memenangkan sebuah pertempuran.

Para Neo khawarij ini dengan tegas tidak menerima cara selalin jihad bersenjata. kita tentunya tidak menolak jihad dengan pedang, tapi juga perlu dilihat konteks waktu dan tempat sebagai strategi dan juga berjalannya nilai2 islam. Bagaimana bisa di Indonesia yang tidak sedang mengalami peperangan bersenjata dihalalkan bom bunuh diri. Sekali-kali tidak boleh seorang muslim menumpahkan darah saudara dan dirinya untuk hal yang sia-sia, apalagi menguntungkan musuh2 islam.

Bagi saya perjuangan dakwah di Indonesia untuk saat ini hanya bisa melalui dakwah parlemen, guna menuju kunci kekuasaan yang paling dekat dan memaksimalkan untuk kepentingan rakyat yang lebih besar. Perjuangan dengan bom niscaya hanya sia-sia, bahkan menimbulkan stereotip negatif di kalangan masyarakat terhadap dakwah islam. Rasul telah mencontohkan, ambil kebijakan yang lebih menguntungkan umat dan punya peran panjang ke depan. Nampaknya perjuangan masih panjang dan kita harus lebih banyak belajar untuk mampau memaknai berbagai kejadian masa lampau yang punya pesan untuk masa kini.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images