Kenapa Harus Baca Buku API SEJARAH...

21.13


Pada tanggal 18 Januari 2010 saya bersama akh Erohuki menghadiri acara bedah buku Api Sejarah karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara di kampus FIP UNNES Semarang yang diadakan oleh KAMMI Komisariat UNNES. Penulis hadir sebagai pembicara di temani Prof. Abu Su’ud Guru Besar Sejarah UNNES.

Kekaguman pada buku ini membuat benar-benar bertambah saat betemu dengan sang penulis langsung. Buku yang bercerita tentang perjuangan para ulama dan santri dalam membentuk Negara Indonesia patut diapresiasi serta menjadi bacaan wajib para aktivis dan cendekia. Mengapa? Bagi umat islam, dengan membaca buku ini, menurut penulis kita dapat menemukan paradigma dalam membangun Indonesia, yang teraktualisasi dari diri, keluarga, masyarakat dan Negara, konsep yang sama dengan Hasan Al Banna, mursyid pertama Ikhwanul Muslimin.

Buku ini bertambah special karena ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara dalam keadaan tidak batal wudlu, menutup aurat dan dalam keadaan puasa daud. Sebuah ikhtiar luar biasa, berusaha menulis dengan cara-cara para perawi hadits yang shahih. Bagi beliau, menmbaca sejarah tidak semata menemukan fakta, tapi harus mampu mencari apa pesan yang terserit dalam sebuah peristiwa masa lampau, jadi tidak bisa dipandang linier.

Isi buku ini tentu sangat special dan luar biasa dan banyak membuat beberapa pihak marah besar. Bahkan naskah beserta foto Api Sejarah 2 yang akan diterbitkan bulan Maret dicuri di Sukabumi, sehingga terancam gagal terbit. Dalam Buku Api Sejarah jilid 1 ini isinya mengenai perjuangan ulama dan santri yang menjadi poros utama terbentuknya gerakan nasionalisme dan kebangsaan sampai kemerdekaan.

Dari buku ini ada beberapa fakta menarik yang dibahas, antara lain, terkait hari kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Penulis menceritakan bahwa tidak pantas 20 Mei diperingati sebagi Harkitnas, karena Budi Utomo adalah organisasi yang menolak pergerakan nasional bangsa Indonesia, jadi lebih pantas Sarikat Islam yang dijadikan titik tolak kebangkitan Nasional, ditambah Sutomo menolak keras ajaran Rasulullah.

Yang lebih menarik adalah kontribusi ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam proses kemerdekaan. Untuk urusan perjuangan bersenjata, ulama dan santri NU menyambut fatwa jihad dari Kyai Hasyim Asy’ari dengan membentuk Hizbullah yang nantinya berlanjut menjadi batalyon tempur TKR dan TNI, proses terbentuknya TNI tidak lepas dari perjuangan ulama yang kekeuh membentuk TNI untuk mengamankan Revolusi Indonesia. Akhirnya TNI dipimpin oleh Jendral Besar Soedirman, seorang guru dan ulama di sebuah sekolah Muhammadiyah.

Untuk urusan pembentukan UUD 1945, Pancasila dan NKRI tak perlu ditanyakan lagi peran ulama seperti Wahid Hasyim, Ki Hadi Koesoemo, Muhammad Natsir, Kahar Muzakkir. Bahkan Piagam Jakarta sebagai landasan ideology Indonesia bersedia diganti dengan Pancasila, hanya untuk kesatuan Indoensia, itulah sikap toleransi terbesar dari ulama Indonesia.

Ada pesan menarik dari Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, beliau berpesan pada aktivis islam bahwa untuk membuktikan kebenaran islam, maka ada dua hal yang harus dilakukan yaitu MENULIS BUKU DAN MERAIH KEKUASAAN POLITIK. Karena tanpa kekuasaan politik maka kebenaran dari buku bisa diputarbalikkan. Inti dari buku ini adalah mengembalikan islam sebagai sejarah utama bangsa ini, karena proses deislamisasi telah berjalan dalam jangka waktu yang begitu lama

Begitu banyak sejarah yang tersembunyi dan sengaja disembunyikan, berhasil dibuka serta disajikan dengan apik oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara di usianya yang telah senja. Sebuah mahakarya terbesar di abad 21 ini adalah awal dari kebangkitan umat islam untuk mewujudkan tatanan dunia yang adil sesuai dengan ajaran Rasulullah. Kita akan melihat paradigma baru dari aktivis islam yang menceburkan diri dalam buku API SEJARAH ini, bagi saya buku ini menjadi sebuah lentera di tengah kegelapan yang diselimuti awan mendung kejahiliyahan. Jazakumullah khairan katsir

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images