Jungkir Balik Islam vs Liberal

16.34


Peperangan intelektual rasanya sudah terjadi sejak dahulu kala. Bentuknya bahkan sangat variatif, ada yang berbentuk manipulasi sejarah maupun yang paling ekstrim adalah manipulasi kurikulum. Di sebuah Negara yang otokratis biasanya peperangan intelektual tidak bisa terjadi secara terbuka, karena sifat dictator sang pemimpin yang pastinya hanya membolehkan satu macam model intelektual yang berkembang di wilayahnya.
Dewasa ini hamper seluruh Negara menrapkan system demokrasi dalam mengatur urusan negaranya. Ada hal yang pasti dalam berdemokrasi adalah bahwa pluralisme ideology serta intelektual terjadi secara imbang dan bebas. Pertarungan di era modern kini rupanya telah memabawa 2 ideologi besar dalam sebuah kontestasi antara islam dengan liberal. Nyatanya kedua ideology ini tidak bisa dilihat sevagai 2 hal yang benar-benar berbeda.
Pemikiran liberal yang sejatinya berdampingan dengan banyak pemahaman dan pemikiran lain, semisal kapitalisme bila dilihat secara historis nyatanya banyak mengambil nilai-nilai islam. Namun hal ini tidak lantas menjadi pembenaran bahwa liberal diterima oleh islam. Islam sendiri sebagai agama datang dengan kesempurnaan di dalamnya ditambah dengan hadits Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi perbedaan utama adalah bahwa islam mempunyai rujukan dan batasan yang jelas dalam melihat pluralisme sosiologis dan teologis, karena semua itu telah nyata rujukannya.

Yang menjadikan ideology liberal saat ini menjadi leader di dunia adalah karena peristiwa perang dunia serta terjadinya industrialisasi besar-besaran di eropa, namun dampak negatifnya sangat kita rasakan saat ini. Ideologi liberal ini mempunyai dampak yang luar biasa terhadap manusia dan lingkungannya. Islam dan liberal secara harfiah nalar kekuasaan cakupan pengaruh mempunyai tujuan sama, yaitu mewarnai seluruh bentuk kehidupan yang bersentuhan dengannya. Dalam islam Rasul telah mencontohkan dengan jelas bahwa seorang muslim harus mampu menjadi apapun dalam kondisi bagaimanapun.
Nabi Muhammad adalah seorang saudagar yang kaya raya, seorang pemimpin yang adil, seorang pemimpin yang bisa dipercaya, seorang pemimpin perang yang handal dan pastinya seorang hamba Allah yang taat. Sedang liberal sendiri terus berkembang dengan pemahaman bahwa ada proses penyesuaian dengan konteks waktu dan tempat (heurmenetika).
Kedua ideology ini sekarang mempunyai keunikan, saling menyerang dalam waktu yang sama, namun ditempat yang berbeda. Islam yang dianggap kuno oleh sebagian pemeluknya, ditinggalkan dan banyak muslim yang terjebak dalam sebuah konteks kehidupan modern ala barat, sebut saja feminism maupun postmodernisme.
Sebaliknya Eropa dan Amerika sedang mengalami sebuah proses islamisasi yang massif di wilayahnya, dengan imigran muslim ataupun dakwah yang mengkonversikan keyakinan. Bila melihat dari sisi konversi ke islam saja tidak cukup. Lihat dewasa ini aksi mendukung Gaza-Palestina malah cenderung didengungkan muslim Eropa dan Amerika, sedikit menyindir muslim di Indonesia yang islamnya bermazhab syafi’I yang notabenya adalah ulama kelahiran Gaza.
Membaca tulisan Ketua KAMMI Pusat, Rujalul Imam tentang “Jungkir Balik Teori” yang melihat fenomena muslim eropa dibandingkan dengan Negara yang mayoritas muslim, nyatanya factor pemimpin dan Negara yang menghalangi berkembangnya pemahaman islam kaffah di Negara mayoritas muslim yang menjadi kendala utama. Faktor kekuasaan yang takut akan revolusi oleh para modernis islam ini telah terjadi di berbagai belahan dunia. Jungkir balik ini juga tidak lepas dari hilangnya sisi religi masyarakat eropa yang telah jumud dan jenuh dengan model kehidupan tanpa iman.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images