KAMMI Generasi ke-6 Intelektual Muslim Indonesia

19.30


Banyak pihak sangsi dengan intelektualitas kader-kader KAMMI. Nampaknya permasalahan ini perlu disikapi lebih serius oleh kalangan internal KAMMI. Nyatanya seorang pengamat politik terkemuka Yudi Latief menempatkan KAMMI sebagai generasi ke-6 intelektual muslim yang mengusung politik islam dan islam sebagai solusi.

Ada hal yang menarik pula, Yudi latief menempatkan KAMMI vis a vis dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Berhadapan dan berlawanan secara ideology dan gerakan antara KAMMI dengan JIL. Namun untuk saat ini pertempuran idealita belum Nampak, karena pemikiran JIL lebih banyak dilawan oleh ulama DDII seperti Adian Husaini ataupun Daud Rasyid.

Tidak sembarangan Yudi Latif menempatkan KAMMI dalam posisi “strategis” di era reformasi. Dalam bukunya Intelegensia Muslim dan Kuasa, Yudi menggaris bawahi peran KAMMI dalam pergerakan mahasiswa di tahun 1998. Dari sana pertumbuhan KAMMI sungguh pesat, pola gerakannya juga sangat berbeda dengan elemen gerakan lain, karena berbasis pada Lembaga Dakwah Kampus.

Memasuki tahun ke-12 ini, KAMMI semakin dituntut kreatif dan cerdas menghadapi permasalahan bangsa. Memang KAMMI sangat identik dengan aksinya, namun diperlukan inovasi kader untuk meulis dan bergerak di jaringan yang lain, semisal media massa. Diranah-ranah itulah kader KAMMI harus mampu membuktikan kematangan intelektual dan mental.

Perlu dibuktikan dan diobjektifikasikan secara meluas di kampus dan masyarakat terkait software dan hardware kader-kader KAMMI. Seperti pesan Alm.Ust. Rahmat Abdullah, sebagai kader dakwah tidak boleh berdiam dalam zona nyaman, berdiam dalam rohis saja atau berkutat dalam lembaga yang dikelola oleh kader KAMMI saja. Diperlukan keberanian untuk menjadi tinta yang mampu mewarnai peradaban.

Memang seringkali kita terjebak pada zona nyaman, dengan alasan menjaga diri agar tidak terwarnai kejahiliyahan. Bila kita tidak mau melewati batas itu, cap sebagai generasi ke-6 intelektual muslim hanya embel-embel belaka. Karena seorang intelektual muslim bukan hanya seorang pengkader, tapi juga seorang pemikir, seorang mujaddid yang selalu dibutuhkan umat untuk membangkitkan dakwah islam.

Jadi kita harus berani keluar kandang, dengan tidak melupakan tempat pembinaan utama umat islam. Keluar kandang adalah untuk membuktikan sejauh mana keberhasilan pembinaan dan ideologisasi kader KAMMI. Ketakutan akan kehilangan kader adalah cirri-ciri kejumudan ilmu para da’i. Selayaknya memasuki usia 12 tahun kader KAMMI mampu memaknai dakwah lebih luas lagi, tidak semata mengurus rohis dan menambah kader, ataupun memenangkan pemilu kampus, namun harus mampu membuktikan kapasitas ilmu-maknawi dan bisa diterima semua kalangan. Itu menjadi penting ditengah ISLAMOPHOBIA masyarakat dunia dan Indonesia.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images