Politik Peradaban, Masa Depan Dunia Islam

20.29


Peristiwa kapal Mavi Marmara bila dicermati betul, ada yang berbeda bila dilihat dari respon dunia internasional. Dunia seakan baru tahu betapa Israel memang sangat tidak menjunjung hukum internasional. Peristiwa ini “hanya” menewaskan 19 relawan kemanusiaan. Coba bandingkan dengan sabra sattila yang menewaskan ribuan pengungsi Palestina di Lebanon, atau pengusiran jutaan penduduk asli Palestina oleh Israel.

Sebenarnya bukan masalah jumlah korban yang ingin saya perbandingkan, namun yang paling penting adalah melihat sejauh mana kepedulian dunia internasional. Peristiwa sabra Satilla maupun intifadha rasanya tidak banyak menggugah nurani dunia, karena akses informasi yang terbatas, serta pola jaringan gerakan aktivis islam yang belum luas menyebabkan respon dunia lemah. Inilah yang membedakan dengan peristiwa kapal mavi marmara, bagaimana kemampuan jaringan aktivis islam yang mampu mengelaborasi bersama aktivis kemanusiaan dari lintas agama dan berbagai NGO.

Efeknya luar biasa, pasca kejadian pengepungan kapal mavi marmara, pola komunikasi dan back up gerakan dari berbagai penjuru dunia merespon dengan cepat. Upaya yang bukan saja berani, tapi sangat cedas dengan memperhitungkan efek politik yang luar biasa. Satu Negara yang paling berperan dalam hal ini adalah Turki. Turkilah yang berani memfasilitasi para aktivis kemanusiaan dengan kapal maupun pelabuhannya. Tidak berhenti di situ saja, bahan kekuatan diplomasi dan politik Turki ikut menekan Israel.

Pola gerakan aktivis islam sudah mulai berkembang, tidak selalu dengan mengangkat senjata. Infrastruktur jaringandi luar mereka baik muslom maupun bukan, benar-benar mampu di ekspolitasi. Mereka menyadari betul bahwa perjuangan pembebasan Palestina harus mendapat dukungan penuh aktivis kemanusiaa. Hubungan jaringan inilah yang membuat efek luar biasa pasca peristiwa mavi marmara.

Efeknya tidak berhenti dalam bentuk kecaman saja. AKP sebagai partai penguasa Turki berhasil meyakinkan militernya (yang selama ini beroposisi terhadap AKP) bahwa Israel berbahaya, alhasil latihan militer Turki-Israel dibatalkan. Lalu dengan cepat Turki menjadi leader gerakan ini.

Mesir dan Arab Saudi yang selama ini diharapkan umat islam hanya terdiam saja. Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza tidak berkutik, karena deal politik dengan AS untuk tidak membuka jalur Rafah, dengan imbalan bantuan militer dan ekonomi milyaran dollar. Arab Saudi juga mengalami hal yang sama. Turki dalam hal ini bisa memanfaatkan moment yang tepat untuk menghimpun kekuatan umat islam dunia.

Politik peradaban menjadi tema penting dunia saat ini. Obama telah mengisyaratkan bahwa Turki adalah Negara yang sangat penting di dunia islam, dengan kunjungan pertamanya kesana setelah di lantik menjadi presiden AS. Power bargaining inilah yang oleh Turki terus dimanfaatkan. Pertarungan peradaban dunia islam dan barat tidak bisa dihindarkan. Pertarungan ini tidak lagi dalam locus-locus pertempuran bersenjata, tapi lebih menitikberatan pada penguatan bargaining dan penggunaan jaringan yang luas.

Turki bisa dibilang sebagai Negara mayoritas muslim yang berani menggebrak dunia internasional. Keinginan Turki masuk Uni Eropa mendapat penolakan yang tegas dari Prancis. Tidak berhenti di sana, Turki mampu memainkan peran penting di wilayah Balkan, yang mengingatkan memori Utsmaiyah di wilayah tersebut. Penaklukan secara ekonomi politik oleh Turki memang sedang terjadi di kawasan timur tengah dan Balkan, ini yang menjadi senjata bagi Turki untuk bisa duduk satu level dengan AS.

Masa depan dunia islam tidak lagi ditentukan dengan penklukan wilayah bersenjata, namun lebih penting adalah penguasaan opini strategis di bidang ekonomi social politik. Turki memainkan peran yang begitu manis, ampu merangkul Suriah dan saat ini Indonesia sedang melakukan penjajakan strategis dengan Turki. Moment Gaza memang tidak sederhana, banyak efek politik maupun ekonomi dunia yang secara tidak langsung terpengaruh. Itulah mengapa media massa besar di barat yang dipunyai zionis berusaha keras menutup pemberitaan tentang Gaza.

Indoensia tidak tertinggal dalam perang peradaban ini. Anggota komisi I DPR telah masuk Gaza dan bertemu dengan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah. Gerakan DPR ini tidak mutlak dipelopori PKS partai yang sangat konsern dengan isu Palestina, namun PKS merusaha membumikan siu Palestina ini dengan merangkul semua Perpol di DPR. Memang pembebasan Palestina harus mendapat dukungan semua kalangan, bahkan di luar aktivis dakwah dan gerakan islam.

Efek mavi marmara begitu dahsyat, apalagi efek yang ditimbulkan bila Palestina merdeka dengan kembalinya wilayah” yang direbut Israel. Hamas sebagai kekuatan politik dan militer terbesar di Gaza, menyadari tantangan ke depan semakin berat. Tidak hanya menahan gempuran Israel, namunupaya diplomasi dan perjanjian damai akan terus berlanjut, tentunya dengan berbagai resiko.

Bial kita mencermati eksistensi HAMAS mempertahankan wilayah Gaza, Iran adalah Negara di balik kekuatan militer HAMAS. Suplai bantuan senjata maupun dana terus menyokong eksistensi dan bertahannya pemerintahan Palestina di Gaza. Pasca peristiwa mavi marmara, nampaknya kekuatan politik islam di berbagai Negara sedang mengkonsolidasikan kekuatan masing-masing menuju era politik peradaban, dimana perang sesunggahnya ada di kebijakan dan jaringan masing-masing. Sebuah tantanagan berat yang harus dihadapi.

Di Indonesia, nayatanya PKS sebagai kekuatan partai islam terbesar, sedang mengkonsolidasikan kekuatan menuju politik global yang tidak bisa menafikan komunikasi denga barat baik AS dan kawan-kanwan kapitalisnya maupun kekuatan buruh di barat. Perang konsepsi dan opini akan semakin terbuka dengan terus berkembangnya komunikasi antara islam dan barat. Bila kebangkitan barat ditandai dengan mengambil pengetahuan dari islam, dan mengembangkannya tanpa hikmah, bisa jadi kemenangan dunia islam di mulai dengan komunikasi peradaban antara islam dan barat, dimana umat islam dan seluruh aktivis islam harus pandai mengambil serta menentukan momentum yang tepat untuk datangnya kemenangan itu. Sebuah perjuangan berat membawa umat untuk terus berbenah. (IDC)

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images