Subsidi BBM Antah Berantah

08.58

Saat itu saya masih di Lombok, pagi-pagi melihat berita di TV One yang mengabarkan bahawa ada rencana dari kementrian ESDM untuk menghapus subsidi bagi pengendara sepeda motor. Alasannya terlalu banyak jumlah sepeda motor dan penggunaan BBM begitu terkuras di sector itu. Sepertinya alasan ini bisa diterima, namun secara logika-sosiologis bila kebijakan ini benar-benar dilaksanakan, niscaya rakyat kecil akan mati perlahan.

Sebuah logika yang aneh, motor yang merupakan kendaraan wong cilik harus dikorbankan pemerintah untuk alasan menekan subsidi BBM. Lalu apa yang salah dengan ini. Banyak masyarakat kita lebih memeilih membeli sepeda motor sendiri tentunya dengan lebih hemat dan lebih cepat, artinya ada masalah serius di bidang transportasi kita. Bagaimana tidak, lihat saja Jakarta atau kota besar lainnya, tanpa sepeda motor, mobil dan angkutan kota laiinya pasti terjebak macet.

Lihat kondisi Eropa dan AS, maupun Jepang dan Korea. Di sanan konsumsi masyarakat untuk BBM tidaklah besar, karena murah dan cepatnya transportasi disana. Otomatis mereka enggan membeli motor ataupun mobil sendiri, kalaupun ada penggunaanya tidaklah setinggi prosentase di Indonesia.

Sekali lagi Indonesia takut dengan asing, dalam hal ini Jepang. Secara makro ekonomi keberadaan Indonesia bagi Jepang sangatlah penting, bahkan sangat penting. Indonesia adalah penyedia bahan mentah nomor satu bagi Jepang, tapi juga Indonesia juga menjadi konsumen nomor satu bagi industri Jepang, terutama industri otomotif. Oleh karena itu aneh rasanya pemerintah Indonesia berencana memangkas subsidi bagi pengendara sepeda motor.

Seharusnya regulasi yang diutamakan adalah pembatasan kepemilikan sepeda motor. Di Singapura sebuah mobil mempunyai umur maksimal 5 tahun, sehingga setelah uzur harus di ekspor atau dihancurkan. Tujuan utamanya adalah memangkas populasi kendaraan, dan efeknya adalah transportasi utama di sana hidup dan pemakaian BBM tidak melonjak tinggi, BBM bisa dikonsentrasikan untuk industri.

Untuk Indonesia belum bisa seperti di Singapura, mengingat kondisi geografis dan kondisi prasarana transportasi yang masih memprihatinkan. Yang pertama harus dilakukan pemerintah adalah membangun transportasi alternative yang murah, yaitu pembagunan rel kereta api. Kereta api menjadi sebuah transportasi yang sangat murah bila memang pemerintah mau serius. Nyatanya Pemerintah sering kali takut untuk membangun rel kereta api, karena “ancaman” investasi Jepang yang akan ditarik dari Indonesia.

Kenapa Jepang sangat takut jika transportasi kereta api Indonesia maju?? Efeknya jelas, bila arus transportasi berpindah ke kereta, entah niscaya konsumsi masyrakat untuk sepeda motor maupun mobil akan turun drastic. Kita tinggal menunggu keberanian pemerintah membangun infrastruktur yang mantap. Bila transportasi telah mapan, pastilah egulasi pembatasan sepeda motor maupun mobil akan berjalan lancar.

Jadi untuk penghematan BBM saya rasa ada beberapa kunci jalan keluar. Pertama bangun infrastruktur transportasi alternative selain jalan raya, bisa rel kereta antar provinsi maupun dalam kota. Kedua, buat regulasi terkait pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi. Ketiga, buat sumber energy alternative seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, karena tanpa nuklir masa depan Indonesia adalah kegelapan. Semua tuntutan ini akan terealisasi bila segenap lapisan masyarakat bisa berkontribusi, insyaallah. Merdeka!!!

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images