We Will not Go Down

16.34

Pembajakan kapal mavi marmara oleh militer Israel telah membangunkan dunia dari tidur panjang. Betapa tidak, pasca perang tujuh hari dunia Arab terdiam dan seolah tak peduli dengan penderitaan rakyat Palestina. Pembantaian di sabra dan sattila tidak juga menggugah nurani Negara-negara arab. Puncaknya pada 1989 meletuslah intifadha pertama, yang akhirnya juga melahirkan Hamas (Harakah Al Muqawwamah Al Islamiyah).

Kelahiran Hamas di Gaza ini dipicu tidak berdayanya PLO dibawah Yasser Arafat menghadapi pembantaian zionis Israel. Perlawanan Hamas nyatanya sangat militant dan mampu memepertahankan wilayah Gaza sampai saat ini. Karena dituduh sebagai gerakan teroris oleh dunia barat, akhirnya pada tahun 2006 Hamas ikut serta dalam pemilu Palestina. Di luar dugaan, Hamas menang dengan suara mayoritas di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang mengantarkan Ismail Haniyah sebagai perdana menteri Palestina.

Kemenangan Hamas dalam pemilu ini tidak disukai Amerika dan Israel, akhirnya pada 2007 Israel membangun tembok setinggi 7-9 meter disepanjang perbatasan Gaza-Israel dan Gaza-Mesir, dengan tujuan mematikan pergerakan Hamas. Nyatanya pejuang Palestina masih bisa membuat terowongan menuju rafah Mesir, namun pasca serangan pada 2008 oleh Israel, Mesir menanam besi dan beton sedalam 30 meter untuk menghalangi dan menghancurkan terowongan warga Gaza.

Karena blokade dari semua arah, banyak aktivis kemanusiaan yang terpanggil untuk memberikan bantuan ke Gaza. Sebuah gerakan kemanusiaan yang tidak hanya terdiri dari muslim saja, tetapi berbagai agama dan Negara bergabung dalam kapal Mavi Marmara untuk menyalurkan bantuan ke Gaza. 12 orang diantaranya warga negra Indonesia.

Tetunya aneh, mengapa Negara-negara arab diam puluhan tahun. Faktor utamanya adalah politik dan ekonomi. Secara politik kemerdekaan Palestina akan sangat mengancam Negara-negara di semenanjung Arab, karena sebagian besar Negara itu adalah bentukan Inggris dan AS. Sebut saja Arab Saudi yang dulu memberontak dari Turki Utsmani dengan bantuan Inggris. Apalagi Negara-negara minyak yang eksistensinya bergantung AS dan Israel, macam UEA, Kuwait, Irak, Qatar, Yordania, Yaman dan Bahrain.

Bila Palestina merdeka, niscaya gerakan pembebasan negeri-negeri Arab akan dimulai, dengan motor Ikhwanul Muslimin Mesir. Tentunya AS tidak ingin revolusi macam Che Guevara dan Simon bolivar di Amerika Selatan terjadi di Timur Tengah. Untuk menghalangi revolusi Arab ini, AS tidak segan memberikan bantuan milyaran dollar pada Mesir dan bantuan militer pada Arab Saudi. Tentunya jika kedua Negara ini membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina, bantuan itu akan dihentikan.

Itulah mengapa Negara-negara Arab enggan membantu kemerdekaan Palestina, disamping fakta sejarah yang membuktikan bahwa Israel secara militer tidakbisa ditandingi oleh Negara Arab manapun. Peran strategis yang harusnya bisa dipegang Mesir akhirnya diambil alih oleh Turki. Melalui Perdana Menterinya Recep Tayyip Erdogan, Turki secara tegas dan jelas menegaskan sikapnya pada Israel. Tidak hanya berbentuk pengecaman, secara terang-terangan Turki menyediakan fasilitas kapal dan dermaga untuk persiapan para aktivis kemanusiaan.

Langkah strategis ini membawa Turki menjadi pemimpin dalam pembebasan blokade Jalur Gaza. Sikap ksatria para pemimpinnya membuat negeri itu mendapat simpati Eropa dan dunia Timur Tengah. Indonesia nampaknya belum akan beranjak dari sikapnya yang hanya bisa mengecam. Langkah terbaik bagi kita adalah dengan penggalangan dana dan bantuan kemanusiaan yang terus-menerus.

Ibnu Dwi Cahyo

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images