Membebaskan Identitas Islam Dari Wahabi

14.59


Wajah dunia islam di awal adab 20 dan awal abad 21 ini terasa sangat kontras dibandingkan jaman keemasan peradaban Umayah di Cordova maupun Abbasyiyah di Baghdad. Bagi umat muslim Indonesia rasanya tidak menyadari hal itu sepenuhnya, karena memang pendapat itu datangnya dari para pemikir dan umat islam yang hidup di Eropa.

Umat islam yang dikenal Eropa adalah para penakluk wilayah Kristen (bagi para pihak gereja) dan pembawa keselamatan bagi Eropa. Ada 2 hal yang kontras, memang umat islam mampu menaklukkan ibu kota Byzantium-sebuah kerajaan Kristen terbesar di Eropa, dengan merebut Konstantinopel atau yang popular dengan Istambul. Bagi gereja vatikan itu adalah kejadian yang sangat mencoreng kedaulatan kekristenan di Eropa yang kala itu sedang mengalami masa kegelapan karena doktrin gereja yang menentang ilmu pengetahuan.

Di sisi lain banyak pemikir dan tokoh Eropa yang tidak segan menyebut umat islam datang sebagi pembaharu dan penyulut revolusi industri di eropa. Ketika itu sebuah dinasti dari bani Umayah yang melarikan dari pengejaran Abbasyiyah, mampu menaklukkan wilayah Andalusia (Spayol) dipimpin Abdurrahman Ibn Mu’awiyah ibn Hisyam, Bukan hanya penaklukkan wilayah, namun juga berhasil melakukan penaklukan ilmu pengetahuan yang diwariskan bangsa yunani.

Ratusan tahun eropa hanya terdiam tak mampu memahami para pemikir yunani. Dalam waktu yang relative bersamaan di Cordova dan Baghdad terjadi proses interaksi ilmu antara islam dan helenisme. Seperti kita tahu banyak penemu dan pemikir handal kala itu: Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Jabar, dll. Itulah mengapa banyak pemikir eropa terpesona dengan peradaban islam kala itu, dari ilmu hitung sampai kedokteran semua tidak terlewatkan oleh umat islam. Semua ilmu itu dipelajari oleh barat tanpa ragu, sampai akhirnya ada motif pengambilalihan kembali wilayah Andalusia.

Masayarakat eropa mencapai revolusi industri karena ilmu yang dipelajari dari umta islam, mereka begitu tajub. Namun beda dengan saat ini. Umat islam selalu dipandang sebagai masyarakat yang bodoh, malas, primitive dan tidak mengenal HAM. Rasanya itu bisa dimengerti bila melihat kondisi umat sekarang, apalagi ditambah manuver politik berbagai Negara berpenduduk mayoritas islam.

Islam di kalangan barat dipandang berwajah keras dan tidak toleran. Sebenarnya sampai abad 19 kekuatan islam masih sangat diperhitungkan, namun runtuhnya khilafah Ustmani menjungkirbalikkan semuanya. Keberhasilan keluarga Sa’ud mendirikan Arab Saudi bersama para pembawa ajaran wahabi menjadi salah satu pintu gerbang kekerasan dalam islam.

Keluarga Sa’ud yang bekerjasama dengan Wahabi dan dibantu Inggris dalam mendirikan kerajaan Arab Saudi memang punya sejarah kelam dalam proses pendirian kerajaan tersebut. Di abad 19 para pengikut wahabi yang termasuk suku badui arab melakukan banyak pembantaian terhadap umat islam yang dianggap menyimpang dari ajaran mereka. Dalam sebuah peristiwa di karbala Iraq, wahabi ini membantai 4000 muslim syi’ah disana, dengan alasan syia’ah adalah kafir dan telah menodai islam. Aksi semacam ini terus berlangsung sampai berdirinya kerajaan arab Saudi.

Setelah Saudi berdiri, pengikut wahabi yang biasanya hidup nomaden ini dipaksa untuk hidup menetap di wilayah hijaz yang sudah dikuasai Saudi. Dalam praktek politiknya Saudi memang tidak bisa lepas dari bantuan barat, terutama AS dan Inggris. Pola komunikasi ini rupanya tidak terlalu disukai para ulama wahabi, sehingga mereka melontarkan kritik tajam pada pemerintahan Raja Abdul Azis. Akibatnya beberapa ulama wahabi seperti Syeikh bin Bazz dipenjara pada tahun 1940.

Akhirnya terjadi negosiasi, bin Bazz diberikan otoritas mengelola keagamaan di Arab Saudi, jadilah wahabi satu-satunya paham islam resmi di Arab Saudi dengan melembaga. Hubungan politik dan ekonomi yang mesra antara Saudi dengan AS terutama di bidang perminyakan mengundang kegelisahan banyak pengikut setia wahabi, salah seorang diantaranya bernama Juhaiman, yang juga seorang murid Syeikh bin Bazz.

Juhaiman inilah yang menyebarkan fikroh islam garis kerah di Arab dan tulisannya “Tujuh Risalah” mampu melahirkan gerakan islam radikal lainnya di Mesir, Jamaah Islamiyah. Kerasnya pemahaman terhadap islam membuat mereka menafikan ulama berpengaruh lainnya, seperti Yusuf Qaradhawi, Muhammad Al Ghazali maupun Said Hawwa. Pemikiran Juhaiman bahkan oleh mereka dipadukan dengan Sayyid Quthb, padahal Ikhwanul Muslimin sebagai tempat Sayyi Quthb bernaung dengan jelas menolak gerakan kekerasan mengatasnamakan islam. Hal ini ditegaskan oleh Hasan Hudaibi dan Umat Tilmisani sebagai Mursyid Ikhwan.

Kekecewaan beberapa kader Ikhwan terhadap sikap petingginya yang dianggap terlalu moderat mendorong mereka bergabung dengan Juhaiman. Lalu ada beberapa peristiwa penting yang berkaitan langsung dengan gerakan Juhaiman ini. Tahun 1975 Raja Faisal, Raja kedua Arab Saudi ditembak mati di Istananya oleh salah seorang keluarganya sendiri. Tahun 1979 terjadi pemberontakan dan pengambilalihan Mekah oleh komplotan Juhaiman, yang nantinya melahirkan dan menginspirasi Osama bin Laden mendirikan Al Qaedah.

Wajah keras islam yang dikenal karena adanya “terorisme” memang sudah lama kita sadari. Namun ada yang membuat islam sangat keras bagi non-muslim bahkan bagi muslim sendiri, yaitu paham wahabi itu sendiri. Bagaimana tidak, Saudi Arabia sejak diperintah Raja Faisal berusaha menunjukkan diri sebagai Negara pemimpin umat islam sedunia. Beberapa usahannya sangat ditentang ulama wahabi, diantaranya adalah mengundang para tokoh Ikhwanul Muslimin untuk mengajar di berbagai Universitas di Arab Saudi dan kerjasama militer dengan AS, karena ancaman Revolusi Syi’ah Iran. Ketakutan ini mengingat dulu para wahabi bersama Sa’ud membantai ribuan muslim Syi’ah di Karbala Iraq.

Agar pengaruhnya sampai langsung pada masyarakat muslim dunia, Raja Faisal mendistribusikan Al Qur’an gratis serta bantuan dana hibah pada ormas islam dan memberikan banyak beasiswa untuk belajar di sana. Karena kebijakannya inilah dia dibunuh. Sentuhan pemikiran wahabi pada banyak mahasiswa muslim dunia, terutama yang belajar di Universitas Madinah, markas Syeikh bin Bazz, membuat kerasnya wajah islam semakin Nampak.

Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai dakwah Salafiyah (baca: salafy), bermanhaj salaf. Terlihat sangat menjanjikan, namun prakteknya dakwah mereka sangat menakuti umat islam. Karena metode dakwahnya yang dengan gampang membid’ahkan dan mentakfir muslim yang tidak sependapat dengannya. Pola semacam ini juga terjadi di Al Qaedah maupun Jama’ah Islamiyah.

Kerasnya cara dakwah dan kehidupan mereka membuat islam terlihat sangat seram. Ditambah Arab Saudi yang mengidentifikasikan dirinya sebagai contoh umat islam dunia, semakin membuat dunia barat maupun islam sendiri sangat takut. Wahabi sangat mengekang hak-hak kaum perempuan, sehingga pada akhirnya banyak kalangan barat maupun islam sendiri salah paham dan mencap ajaran islam sangat bias gender.

Wajah keras para wahabi inilah yang akhirnya dijadikan isu sentral para musuh islam, bahwa islam menkutkan dan politik islam selalu identik dengan wahabi. Ikhwanul muslimin yang sejatinya sangat berbeda dengan wahabi oleh sebagian besar umat muslim dianggap wahabi, begitu pula Jamaah Tabligh maupun Hizbut Tahrir. Isu wahabi ini sangat menakutkan, karena umat islam di Indonesia khususnya memeluk islam dengan cara damai, dan beribadah dengan damai pula. Adapun perbedaab fiqih selalu disikapi dengan bermartabat, tanpa saling mentakfirkan.

Keberadaan wahabi di Indonesia maupun belahan dunia lain memang sudah terbukti membuat dakwah islam malah ditakuti umatnya sendiri. Islam yang sejatinya damai dan penuh kesantunan, mulai diejawantahka dengan keras dan dengan kekerasan. Wahabi sebagai pemahaman islam tertentu telah terbukti menghasilkan ideology teror macam Juhaiman dan Osama bin Laden. Wahabi juga telah terbukti memecahbelah umat di berbagai Negara, termasuk Indonesia, menyebarkan ketakutan di alam bawah sadar umat islam, bahwa dakwah itu keras.

Bagi wahabi tidak ada yang melebih kebenaran versi mereka. Berbagai fatwa aneh telah keluar dan sering menimbulkan perdebatan dengan ulama di Al Azhar Kairo maupun ulama aswaja lainnya. Seyogyanya kita harus membebaskan identitas islam dari wajah ke-wahabi-an, karena menimbulkan ketakutan luar biasa bagi umat islam dan kemanusiaan di dunia.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images