Keresahan Seorang Kader Tarbiyah (Klo Masih Dianggap Kader)

23.31


Malam ini tiba-tiba kegelisahan itu datang menyerang. Ya, kegelisahan yang setahun terakhir menyerang. Kegelisahan akan runtuhnya bangunan dakwah secara sistematis, bahkan bisa saja seporadis. Dalam gerakan tarbiyah, manhaj yang diambil sebagian besar bersumber dari tokoh-tokoh ikhwanul muslimin yang ajarannya dikenal sangat moderat dan cenderung berangkulan dengan harakah lain.

Tarbiyah di Indonesia bisa dikatakan berkembang mulai akhir tahun 1970-an, di saat tindakan represi pemerintahan Soeharto pada mahasiswa. Saat itu juga masjid kampus mulai berkembang, dengan pusat di ITB dengan masjid Salman-nya. Tokoh awal gerakan dakwah masjid kampus adalah Immaduddin Abdurrahim, seorang tokoh HMI yang berseberangan dengan Nurcholis Majid karena pandangan sekularismenya yang tidak bisa diterima Bang Imad.

Tepat diakhir 1970-an Bang Imad mengadakan sebuah pelatihan bagi para kader dakwah generasi awal, LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Perwakilan dari berbagai universitas besar bergabung di ITB, kebetulan perwakilan dari UNDIP berasal dari fakultas Hukum (almamater saya saat ini) Bapak Mutammimul Ula’, seorang mantan anggota DPR dari PKS. Para peserta LMD ini banyak bersentuhan dengan fikroh Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokoh Masyumi yang saat itu bernaung dalam DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Pengkaderan ini memang ditujukan khusus untuk membentuk embrio awal kader dakwah di kampus-kampus besar seluruh Indonesia. Itulah mengapa, sekarang bisa kita lihat betapa menjamurnya dakwah Tarbiyah di seluruh kampus Indonesia. Jadid dari terbentuknya embrio dakwah kampus bisa dibilang hasil racikan local.

Dakwah kampus mengalami era kemajuan yang sangat pesat saat NKK dan BKK digulirkan pemerintah. Praktis gerakan mahasiswa kehilangan ranahnya berjuang. Dakwah kampus yang berada dalam masjid-masjid dan mushola di kampus mendadak menerima limpahan banyak mahasiswa yang lebih mencari kesibukan dalam kegiatan masjid kampus. Semangat keislaman saat itu juga didasari pada gejolak di luar negeri, terutama Palestina dan Afghanistan. Akhirnya mulai pada tahun 1980-an dakwah kampus menjadi besar dan menjadi penompang besar gerakan Tarbiyah.

Awalnya gerakan dakwah kampus ini tidak mengalami hambatan secara fikroh, karena terpusat memakai manhaj Ikhwanul Muslim. Lalu pada pertengahan 1980-an fikroh Hizbut Tahrir mulai masuk. Belum ada perpecahan yang secara jelas nampak, karena saat itu semua berfokus bagaimana dakwah bertambah luas jangkauannya. Lalu masuk juga fikroh Wahabi yang lebih senang disebut sebagai dakwah salafi. Kala itu masuk karena banyaknya beasiswa dan bantuan dana dari Arab Saudi.

Banyaknya fikroh diawal tidak menimbulkan perpecahan dan perdebatan, namun saat marhalah dakwah (versi tarbiyah) sudah masuk dalam mihwar muasasi pada reformasi 1998, Nampak dengan jelas berbagai perbedaan pendapat yang dibelokkan pada masalah fiqih. Terutama menyikapi era demokrasi, Tarbiyah menyikapi dengan cukup moderat, menjadikan demokrasi sebagai wasilah dan batu loncatan bagi dakwah serta pemberdayaan umat islam. Hazbut Tahrir sendiri tetap menetapkan haram untuk mengikuti demokrasi, meskipun pada prakteknya banyak juga kader HTI yang secara tidak langsung mengikuti dan menikmati proses demokrasi tersebut. Apalagi HT, setahu saya, bisa berkembang hanya di negara yang berdemokrasi macam Indonesia. Lalu salafi sendiri sampai sekarang tidak benar-benar jelas sikapnya, ada sebagian yang saya temui secara terang-terangan mengkafirkan kader tarbiyah, meski saya tahu mereka bukanlah ahli fiqih maupun syari’at, modal semangat dan iman saja.

Ancaman yang cukup besar akhirnya datang juga, yaitu salafi jihadi. Sebuah gerakan yang mengekor pada al qaidah pimpinan Osama bin Laden. Saya yakin banyak kader tarbiyah yang terjebur di sana. Karena tidak sedikit fikroh yang bersentuhan, terutama bila menilik pemikiran Sayyid Quthb dan Abdullah Azzam. Bagi saya adanya gerakan terorisme dan pengeboman di Indonesia memang merupakan sebuah rekayasa asing, terutama AS dan Israel, namun tidak bisa dilupakan bahwa actor pelaksananya adalah sodara-sodara seiman saya di al qaidah dengan berbagai bentuk turunannya. Rekayasa bisa terjadi kalau sudah siap para actor pelaksana. Untuk urusan salafi jihadi ini akan saya tulis di lain waktu.

Berbagai harakah islam yang awalnya saling bersentuhan dan saling berbagi, tiba-tiba mulai era Reformasi mengalami pergolakan, terutama dari sisi pemikiran. Tarbiyah membentuk KAMMI dan PK/PKS. Sebelum pembentukannya ini, sumber kader dari dakwah kampus benar-benar digembleng untuk memahami manhaj yang syumul. Artinya kegiatan tidak hanya sekedar mengaji dan diskusi islam, namun pada titik paling konkrit adalah mengikuti pemilu kampus. Inilah era muasasi di kampus. Karena itulah bisa kita lihat tikoh-tokoh PKS kebanyakan adalah aktivis rohis yang juga aktif di dewan mahasiswa/senat dan BEM. Lihat Mustafa Kemal, Zulkiflimansyah. Mereka besar dalam LDK, yang dalam dalam lingkup nasional bernaung dalam FSLDK. Inilah awal pembentuka KAMMI.

KAMMI sebagai anak kandung dakwah yang lahir dari rahim terbiyah banyak mengejutkan kalangan intelektual dan pengamat politik, dari mana datangnya ribuan anak-anak muda yang rajin sholat-hafal qur’an tapi cerdas dalam berpolitik. Pertanyaan ini memang akhirnya terjawab, namun bagi saya ada sebuah masalah serius. Kalau para pengamat politik melihat ada kecerdasan politik/siyasiyah dalam kader KAMMI maupun LDK(rohis kampus), apakah itu masih ada sampai sekarang. Realitanya tergantung kebijakan setiap kampus.

Di UNDIP, dakwah kampus mengalami problema besar dari sisi fikroh. Rohis sebagai lembaga dakawah resmi di kampus mengalami degradasi atau kalau boleh dibilang stagnansi pembelajaran fikroh, bahkan bagi saya ada kebuntuan usaha untuk memahami islam secara komprehensif. Bagi saya lembaga rohis sibuk menyelesaikan prokernya, tanpa peduli dengan perkembangan fikroh kadernya. Lalu kader yang sibuk di Bem lupa juga dengan amanah dakwahnya, sibuk mengurusi segala tetk bengek berbau politik. Intinya pengelolaan manusia sebagai insane cendekia terlupakan. Alhasil bagi kader yang insilah beberapa muara. Pertama, bergabung dengan harakah lain dan biasanya langsung memusuhi fikroh tarbiyah, teritama terkait demokrasi dan pemilu kampus. Untuk yang satu ini menjadi hal umum di UNDIP.

Kedua, kader lari untuk mencari naungan gerakan yang lebih plural ataupun liberal. Biasanya akan berhadapan dalam era pemilu kampus, secara fikroh mereka malas menyerang. Ketiga, kembali pada kehidupan hedon atau menjadi mahasiswa biasa saja. Dari ketiga anmacamn ini, ancaman pertama sangat membahayakan. Ada cerita menarik, saat salah satu jurusan di sebuah Fakultas mengadakan pemilihan ketua himpunan. Selalu sebelumnya kader tarbiyah atau rohis menjadi ketua, tapi kali ini kalah. Bisa ditebak, sebabnya sebagian kader rohis tidak mau membantu karena pemilu macam ini dianggap haram.

Kejadian macam itu masih di kampus, di masyarakat tindakan macam itu sudah meluas, ditambah lagi dengan tidak becusnya pemerintah mengelolan negara ini, seoah menjadi pembenaran bahwa mengikuti pola demokrasi adalah tindakan kafir. Padahal pasca reformasi dakwah yang dibangun di Indonesia mulai mendapat apresiasi masyarakat. Dakwah Tarbiyah adalah dakwah yang syumul. Tidak hanya dakwah politik di parlemen oleh PKS, namun ada juga zakat oleh banyak lembaga zakat, lalu pendidikan dengan SDIT dan semacamnya, bahkan yang paling fenomenal adalah dakwah yang membawa budaya maupun trend sendiri. Nasyid dan novel islami adalah contoh real itu.

Saya bisa membayabgkan bagaimana bentuk dakwah di masa depan dengan pemikiran yang cekak, seperti terjadi di salah satu jurusan tadi. Kesimpulan saya adalah, dalam tataran dakwah kampus fikroh yang dihasilkan sangat parsial, bagi yang aktif di rohis seolah-olah terbebas dari hal-hal berbau politik, dan bagi yang aktif di KAMMI maupun BEM, seolah-olah adalah actor utama kemenangan dakwah pemilu kampus. Pada semuanya harus dikembalikan lagi pada masa awal dakwah, bahwa dakawah adalah kesatuan proses dari berbagai sector dengan pemahaman fikro yang sama, sehingga sinergi bisa benar-benar berjalan. Saya hanya merindukan kesatuan fikroh kader tarbiyah untuk membangun umat menuju Indonesia yang Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur.

You Might Also Like

4 comments

  1. tulisannya berbobot...benar2 bersifat informatif dan kritis...Lanjutkan, mas Ibnu,.!

    BalasHapus
  2. matur nuwun, antum juga harus semangat ukh

    BalasHapus

Follow My Twitter

Flickr Images