Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan NKRI

10.21


Akhir-akhir ini isu terorisme kembali mencuak ke hadapan masyarakat. Entah di sengaja atau tidak, waktu yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, pastilah sedikit banyak mempengaruhi psikologis umat islam di Indonesia. Isu terorisme ini seolah-olah ditempatkan sebagai factor paling utama yang mengancam keutuhan NKRI.

Pendapat semacam itu tetunya benar, peristiwa pengeboman memang sangat mengusik kehidupan bernegara kita. Namun yang harus benar-benar disadari adalah akar terorisme itu. Bukankah sebuah ideology itu berkembang karena situasi yang mendukungnya. Pesimisme public terhadap pemerintah dalam mengatur Negara rasanya mulai mencapai titik nadir. Betapa tidak, dari meledaknya gas 3 kg, kasus KPK, harga sembako yang melangit, serbuan produk impor dari cina, sampai berbagai bentuk ketidakadilan yang dirasakan masyarakat.

Semua permasalahan di atas pastilah menyulut niat menentang segala tirani, salah satunya yang diejawantahkan dalam bentuk terorisme dengan tameng jihad. Belum lagi kondisi global, dimana AS dan barat sangat menyudutkan umat muslim, dengan berbagai diskriminasi kebijakan, seperti Palestina. Berbagai fakta menyebabkan beberapa warga Indonesia mengambil kesimpulan bahwa harus ada tindakan menentang tirani liberal ini.

Mengambil langkah teror nampaknya menjadi pilihan bagi beberapa kalangan, namun keberadaannya malah sangat dimanfaatkan oleh tangan asing. Bagaimana tidak, keutuhan NKRI seolah-olah sangat terancam oleh terorisme yang “hanya” dilakukan segelintir orang saja. Secara sistematis masyarakat terbawa arus opini bahwa terorisme adalah hal utama yang bisa menyebabkan hancurnya NKRI.

Bagi saya pendapat seperti di atas sangat politis dan penuh tendensi kepentingan. Munculnya tindakan teror maupun anarki, disebabkan gagalnya pemerintah mengayomi rakyatnya, malahan pemerintah mengeluarkan kebijakan karena perintah asing, Amerika misalnya. Dalam masalah pangan, pemerintah tidak berani mengeluarkan kebijakan harga batas atas, seperti di Malaysia. Sebagai manusia, tentunya rakyat tidak hanya makan kertas-kertas ideology dan sejarah Pancasila, rakyat menginginkan objektivikasi realitas terhadap keadilan dan kesejahteraan yang merata dan menyeluruh.

Jadi benarlah, bahwa factor utama yang mengacam keutuhan NKRI adalah ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi. Bagaimana ideology Islam garis keras bisa tumbuh di masyarakat yang makmur, bagaimana ideology komunis bisa tumbuh di tengah masuarakat yang adil dan merata. Layaknya kita juga harus memperbaiki diri, khususnya ormas islam, bahwa sebagian besar masyarakat kesulitan ekonomi. Artinya di sanalah ada celah dan lahan untuk berkontribusi lebih maksimal dalam hal dakwah, tidak melulu diisi dengan kajian yang menghujat pemerintah.

Lebih baik lagi, bila semua elemen islam mampu bersatu padu dalam menjaga keutuhan NKRI dengan memenangkan kontes demokrasi yang memberikan peluang dalam lading amal. Masyarakat tentunya lebih bisa menerima ormas dan elemen yang bisa berkontribusi real dalam pemajuan kesejahteraan mereka.

Sekali lagi saya tekankan bahwa yang mengancam NKRI adalah ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi yang tinggi. Kalaupun SBY berusaha membelokkan opini masyarakat, biarlah itu berjalan, kitalah yang harus berusaha membuktikan pada masyarakat bahwa NKRI masih bisa bertahan. Kalaupun SBY menginginkan sebuah Negara federal di Indonesia, biarlah umat islam yang bersatu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lebih islami dan menghormati hak setiap rakyatnya, baik muslim maupun non-muslim. Karena hakekatnya penegakan syari’ah haruslah diawali dengan keadilan yang merata bagi seluruh rakyatnya.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images