Kepahaman (Seri Kontemplasi)

23.22



Saya tidak sedang membicarakan Al Fahmu, tapi kepahaman dalam arti umum yang dipahami manusia. Begitu banyak permasalahan karena kesalahpahaman. Kepahaman bisa kita lihat contohnya pada para siswa yang belajar di tingkat TK sampai SMA, bahkan masih ada mahasiswa. Dari kegiatan belajar itu bisa kita lihat bagaimana beragamnya kepahaman da tafsir dari para siswanya. Bisa jadi karena sang pengajar yang memang membingungkan cara mengajarnya, tapi paling besar kemungkinan adalah daya terima siswanya yang memang berbeda.

Dalam kehidupan ini, ada banyak aspek yang nampaknya perlu mendapat kepahaman serius, karena sangat mempengaruhi kehidupan secara makro social masyarakat. Agama adalah hal paling krusial yang memerlukan pemahamn ekstra dimensional. Kepahaman akan adanya ajaran agama yang baku dan menjaga umatnya perlu dipahami, bukannya malah memahami bahwa setiap orang berhak punya kepahaman dan tafsir berbeda tentang agamanya.

Banyak tokoh liberal dan orientalis berpendapat bahwa pemahaman dan eksekusi ibadah terserah pada tafsir setiap manusia, karena termasuk hak asasi manusia. Mereka kurang memahami bahwa keberadaan agama selama ini telah membentuk tatanan dunia, entah dari aspek produktif maupun destruktif. Yang sangat dikhawatirkan para pemikir barat adalah kekangan doktrin agama, karena Eropa pernah mengalami masa dimana doktrin ke-Kristen-an digunakan kerajaan dengan legitimasi Vatikan untuk membantai musuh-musuh politik.

Muncullah era pencerahan di mana banyak anak muda Kristen macam John Calvin dan Martin Luther King membelot dari doktrin Vatikan dan membentuk Kristen yang lebih “bebas”. Adanya sekarah kelam agama di eropa akhirnya membentuk apa yang kita sebut sebagai “Secularism”. Kepahaman bahwa untuk membangun sebuah negara maju dan modern hukumnya wajib dan harus memisahkan kehidupan negara dan agama. Alhasil gereja di Eropa kini terpinggirkan dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Itulah mengapa sejak tahun 1970-an terjadi trend arus budaya timur ke Eropa dan Amerika, karena kebutuhan masyarakatnya akan sisi humanis religious. Ada yang sekedar mempelajari animisme, namun tidak sedikit yang memeluk agama dari Timur.

Ketakutan eropa pada “agama” memang telah menjangkiti masyarakat di belahan dunia lain, tidak terkecuali di Indonesia. Banyaknya pelajar dan mahasiswa Indonesia yang bermukim dan menimba ilmu di AS dan Eropa tidak sekedar menambah ilmunya, namun dalam konsep ide dan keyakinan turut terpengaruh. Terutama dalam konsep membangun hak asasi manusia. Kepahaman yang memang hanya terbangun dari komunitas homogen di eropa membuat mereka “mendewakan” sekularisme. Alhasil saat pulang ke tanah air, isme-isme ala Eropa yang tidak pas di Indonesia terus dipaksakan untuk dipakai masyarakat.

Kembali pada masalah kepahaman, bahwa apa yang diperjuangkan kaum liberal di Indonesia adalah menjadikan setiap entitas warga Indonesia untuk bebas menafsirkan keberadaan agamanya masing-masing. Menurut saya ini hal gila, karena di Indonesia agama menjadi sebuah instrument social masyarakat yang membangun dan menjaga keberadaan serta keutuhan NKRI. Agama islam di Indonesia missalnya, menjadi pelecut utama kemerdekaan dan keutuhan bangsa sampai saat ini, karena sebagian besar ulama memakai tolak ukur bahwa menolak kerusakan lebih baik dari mengambil sebuah manfaat. Itulah mengapa Islam di Indonesia begitu khas dan sangat teduh wajahnya. Jadi tidak ada alasan memisahkan agama dan negara di NKRI.

Bayangkan saja bila setiap warga bebas menafsirkan dan membentuk kepahaman agamanya sendiri, betapa sangat carut marut keadaan social masyarakat kita nantinya. Kembali pada contoh siswa yang belajar, artinya kepahaman juga bergantung pada tingkat penerimaan setiap orang. Dalam keberagamaan bagaimana bisa berhasil bila tidak ada mufti atau pemimpin agama yang memang benar-benar handal dan menjadi rujukan, Biarlah masyarakat bekerja dan agama menjadi sesuatu yang juga mereka butuhkan, namun dengan adanya konstruksi resmi negara dalam kebergamaan ini.

Institusionalisasi agama dalam negara bukan sesuatu yang haram, karena masyarakat Indonesia beda dengan eropa. Bayangkan saja dengan kebebasan yang terlalu bebas hanya akan menghasilkan dua kutub ekstrim, satu sisi kutub liberal, di sisi yang lain adalah radikalisme agama. Keadaan semacam itu hanya akan memicu konflik social yang tiada habisnya. Saatnya membentuk kepahaman berbangsa-bernegara yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama dan moral. Di sinilah letak kearifan bangsa Indonesia, karena islam saja masuk dengan damai dan proses purifikasinya juga belum selesai. Kepahaman akan agama dan negaranya yang akan membentuk setiap warganya menjadi insan cendekia dan insan mulia.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images