Antara Turki, Mesir dan Indonesia Di Mata Obama

08.08


Sejak terpilih sebagai presidan Amerika Serikat pada akhir tahun 2008 Obama telah membuat sejumlah gebrakan yang jarang dilakukan oleh Presiden AS sebelumnya, yaitu bersafari ke negara-negara mayorutas muslim dengan membawa agenda “dialog antar peradaban”. Obama baru saja singgah di Indonesia, namun kalau disadari benar menjadi sesuatu yang sangat aneh, di mana posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia seoalh dilupakan obama.

Dalam rangkaian perjalanan ke luar negeri peratamanya, Obama membidik 3 negara muslim yaitu Turki, Mesir dan Arab Saudi. Mengapa Turki yang pertama, bukan Mesir atau bahkan Saudi yang merupakan sekutu minyak AS di Timur Tengah, inilah yang menjadi bahasan menarik. Dalam usahanya mendekatkan diri dengan dunia islam, Obama pertama kali engunjungi Turki, padahal seperti kita tahu Turki tidaklah “se-islami” Mesir dan Arab Saudi, tidak ada pusat studi islam maupun gerakan islam di sana.

Turki saat ini dipimpin oleh Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Abdullah Gul, keduanya berasal dari AKP (Partai KEadilan dan Pembangunan), sebuah partai yang merupakan gabungan antara kaum konservatif islam, liberal demokrat dan para pengusaha yang beriman. Alur politiknya memang pragmatis, namun dalam prakteknya selalu menyentuh simbol-simbol islam, semisal perjuangan mengembalikan hak berjilbab dan kemerdekaan Palestina. Yang membuat Obama tertarik dan menjadikan Turki sebagai negara pertama untuk kunjungan kenegaraan adalah pencapaian politik dan ekonomi Turki di bawah komando AKP-Erdogan.

Dari sisi politik dan ekonomi, Turki mampu memainkan peran penting di Balkan, dengan mendapat kepercayaan negara-negara pecahan Yugoslavia macam Serbia dan Bosnia untuk menyuplai bahan kebutuhan pokok, ditambah adanya kerjasama pendidikan. Turki berhasil secara bertahap mengambil peran Rusia di daerah Balkan, meski secara pengaruh militer pengaruh Turki masih lemah. Hal paling mendasar yang menarik perhatian Obama adalah kiprah Turki dalam penyelesaian konflik Arab Palestina dengan Israel. Turki berhasil setidaknya melakukan komunikasi ke semua pihak, dengan Israel bahkan Hamas di Palestina. Inilah factor utama yang membuat Turki berhasil menggeser Mesir dalam menarik perhatian AS.

Nyatanya di lapangan peran Turki sangatlah besar, lihat saja bagaimana Turki berperan besar dalam “menyeting” kapal kemanusiaan Mavi Marmara, sehingga menjadi perhatian seluruh dunia. Meski wajib kita juga angkat tangan dengan jaringan Ikhwanul Muslimin yang membidani gagasan ini. Faktanya naluri politik Obama tidak salah menjadikan Turki sebagai negara “muslim” terdepan yang memegang peran penting di timur tengah. Meski bukan Arab, namun Turki setidaknya berhasil membuktikan kepada seluruh dunia islam, bahwa komitmen Turki dalam pembebasan Palestina bukan hanya lips service seperti Arab Saudi dan Mesir. Pasca serangan Israel ke Gaza, Erdogan dengan sangat berani menyudutkan Presiden Israel Simon Perez di pertemuan ekonomi Davoz Swiss dan diakhiri dengan aksi walk out Erdogan dari forum tersebut. Sesampainya di Istanbul, Erdogan disambut puluhan ribu rakyatnya bak pahlawan purang perang, sungguh aksi heroisme yang saya piker sulit dilakukan presiden lain.

Nalar politik yang gagah berani dari Turki menarik untuk terus diperhatikan, bahkan pasca kejadian Mavi Marmara, Erdogan dengan berani menarik duta besarnya dari Israel dan melarang impor dan ekspor dengan Israel, dengan menuntut Israel untuk bertanggung jawab terhadap penyerangan yang menewaskan 9 warga Turki itu. Sikap politik yang berani ini meman didasari kondisi Israel yang memang menjadikan Turki sebagai “kawan” dalam memelihara kondisi ekonominya. Sekali lagi, sikap Turki ini rasanya sangat mengganggu Obama, karena Israel yang merupakan “sodara kandung” AS. Nampaknya Obama akan terus melakukan pendekatan pada Erdogan untuk melunakkan sikapnya pada Israel.

Di Eropa sendiri Turki adalah kekuatan Ekonomi terbesar ke-6, inilah yang mendasari banyak negara Eropa menolak masuknya Turki menjadi negara Uni Eropa, karena akan mengambil pangsa pasar di Eropa, seperti halnya Cina menguasai pasar Asia Tenggara saat ini. Seperti halnya yahudi-Israel, banyak imigran keturunan Turki yang berdiaspora di Eropa dalam bisnisnya menjalin kerjasama dengan pemerintah Turki memperluas jangkauan konsumennya. Kekuatan Turki yang terus meningkat inilah yang membuat Turki menjadi Negara pertama yang dikunjungi Obama.

Negara kedua yang dikunjungi Obama adalah Mesir. Di sinilah Obama menegaskan keinginan AS untuk berdialog dengan dunia islam. Obama bahkan berani berpidato di Al Azhar yang merupakan tempat pendidikan tinggi tertua di dunia. Di sanalah Obama menampilkan identitas “islamnya”. Yang menarik Obama untuk datang ke Mesir hanyalah 2 hal yaitu Al Azhar dan Ikhwanul Muslimun.

Al Azhar menjadi pusat studi utama islam modern, sejak Mekkah di rebut oleh Saud-Wahabi. Keberadaan Obama di Al Azhar Nampak sangat mencuri perhatian, ketimbang saat kedatangannya di Turki, karena di sinilah pusat studi islam seluruh dunia. Keberadaan Obama di Mesir juga memberikan sinyal betapa Ikhwanul Muslimin (IM) telah mendapatkan perhatian dari AS. Gerak politik dakwah IM telah diadopsi oleh gerakan islam seluruh dunia, baik yang moderat maupun yang cenderung memakai kekerasan.

Setidaknya eropa telah merasakan bagaimana pesatnya perkembangan politik IM. Berdirinya partai islam dan masuknya anggota parlemen di Uni Eropa tidak bisa disangkal yang membidani adalah kader-kader IM Eropa yang berpusat di Jerman. Eksistensi social-budaya yang telah dibangun memberanikan diri IM untuk terjun berpolitik di kawasan Eropa. Isu-isu tentang pemenuhan hak-hak kaum muslimin di Eropa, seperti legalisasi jilbab dan sertifikat halal telah menjadi isu hangat di Eropa. Nampaknya factor ini juga yang menyulut banyak partai anti islam bermunculan di beberapa negara Eropa, seperti Belanda, pemilu di sana dimenangkan oleh Parati Kebebasan milik Geert Wilders yang membuat film Fitna. Sedikit banyak saya jadi mempertanyakan kematangan berdemokrasi masyarakat eropa, yang lebih senang memilih partai dengan slogan yang sangat rasis dan anti islam.

Ada keinginan dialog antara AS dengan tokoh-tokoh ikhwan, atau minimal mereka ingin tahu sejauhmana keberhasilan IM membangun kekuatan politik. Setidaknya sinyal ini membuat seluruh pengamat politik dan hubungan internasional mengalihkan pandangan pada sepak terjang IM. Stahu saya juga, sering diadakan pertemuan antar partai islam di seluruh dunia, semisal pertemua di Malaysia, di sana bertemu Hamas Palestina, IM Mesir, AKP Turki, Saadat Turki, Jama’at Islami Pakistan, PKS Indonesia, PAS Malaysia, IM Jordannia. Nampaknya konsolidasi menjadi kekuatan dunia masih terus berlangsung.

Lalu kenapa Indonesia yang punya penduduk muslim terbesar di dunia bisa dilewati bahkan cenderung hanya menjadi tempat “rekreasi” bagi Obama. Sejarah geografis Indonesia tidak punya peran dalam masalah Timur Tengah. Lalu secara regional kekuatan politik dan ekonomi Indonesia sangat jauh, satu-satunya alasan yang membuat Obam mau datang ke Indonesia adalah menyelamatkan pasar Industri AS di Indonesia yang mulai digeser oleh Cina. Lalu mengamankan investasi penting di Indonesia macam Freeport.

Dalam pidatonya berkali-kali Obama menyampaikan bahwa Indonesia adalah pasar yang penting bagi AS. Bicara tentang dunia islam dan perdamaian di Indonesia nampaknya bagi Obama hanya penghias semata di tengah moderatnya umat silam Indonesia. Yang memang perlu dilakukan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang punya dignity layaknya Soekarno dan punya visi secerdas Erdogan, dengan itu saya yakin setidaknya pengaruh Indonesia di kawasan Asia Tenggara akan kembali meningkat.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images