Tentang Rohis SMA

14.53


Baru saja melihat tayangan televise berjudul “From Zero to Hero”. Judulnya mirip buku tulisan Ust.Izzudin, memang isi acara tersebut mengulas perjuangan seseorang yang berani dan berhasil melewati tantangan. Setidaknya ada 2 episode yang menarik perhatian saya. Episode punk muslim dan bimbel solusi.

Saya tertarik karena keduanya dalam acara itu tidak malu mengungkapkan identitasnya sebagai seorang anak rohis saat SMA. Ada keteguhan dan kemantapan hati dari para pelakunya. Dalam episode punk muslim tokoh yang disorot adalah Ahmad Zaki. Untuk episode bimbel solusi tokohnya adalah Ari Wibowo. Keduanya anak rohis Jakarta.

Keduanya berhasil melakukan apa yang oleh Ust.Rahmat Abdullah disebut sebagai mewarnai. Ya, dakwah harus mewarnai untuk memperbaiki, sehingga islam termaknai dengan nyata, bukan semata dogma-dogma agama. Itulah dakwah yang saat ini masih jadi hal langka dan istimewa, dakwah yang tidak dimaknai dengan sorban dan gamis semata. Dakwahnya mampu menyentuh permasalahan umat dan memberikan solusi langsung yang memberdayakan, bukan semata perintah dan teori.

Ahmad Zaki, seorang mahasiswa yang dengan berani membina sekelompok anak punk jalanan. Baginya, status anak punk tidaklah menghilangkan hak mereka untuk menerima nafas dakwah. Halaqoh dilakukan di pinggir jalan. Karena cukup menarik, akhirnya banyak anak punk lain yang ikut halaqohnya, sehingga membludak dan butuh murobbi baru. Kontribusinya tidak semata membina halaqoh punk muslim, namun memberdayakan ekonomi mereka melalui konser-konser dan ekonomi mandiri lainnya, semacam tambak lele.

Lainlagi dengan Ari Wibowo, yang terpaksa berwirausaha karena orang tuanya meninggal. Bahkan untuk membiayai sekolahnya, seorang guru rela menyisihkan uang bagi Ari. Dia aktif di kerohisan dan kemantapan hati membawanya untuk mandiri. Ada 2 usaha yang sukses digeluti Ari yaitu bimbel Solusi dan warteg dorong. Usahanya membawa berkah bagi masyarakat sekitar.

Gambaran kedua saudara kita yang besar dengan manhaj rohis yang syumul. Saya setidaknya masih optimis dengan gambaran rohis secara umum, namun sekarang marak dijumpai rohis-rohis SMA yang membekali kadernya ilmu semata untuk mentakfir dan merusak ukhuwah islamiyah. Bila kita bicara sejarah rohis, pastilah tidak bisa lepas dari manhaj Tarbiyah atau Ikhwanul Muslimin.

Manhaj Tarbiyah terbukti telah membawa para kader rohis untuk membangun dan memberikan solusi real di tengah masyarakat, bukannya merusak ukhuwah islamiyah. Banyaknya firqoh yang berkembang di Indonesia turut membawa rohis pada arus dinamisasi pemikiran dan gerakan. Secara mainstream rohis masih dikelola oleh kader-kader tarbiyah, namun proses dakwah dan situasi yang dinamis turut serta mengubah beberapa wajah rohis di daerah.

Ada rohis SMA yang dibina oleh orang wahabi (baca salafy), sehingga output kader rohis bisa dibilang keras dalam menghadapi perbedaan pendapat. Bahkan ada rohis yang dikelola oleh orang-orang yang secara pemikiran mendukung kekerasan ala Al Qaidah, ini sangat mencemaskan. Pernah ada kejadian di salah satu SMA di Semarang, ada seorang siswa yang kebetulan besar di salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Setelah adzan, dia bershalawat di mushola sekolah, namun oleh anak-anak rohis yang kurang memahami perbedaan malah diusir. Hal semcam ini akan mencederai ukhuwah umat dan menurunkan izzah rohis secara umum di mata masyarakat.

Lalu apa yang harus kita lalukan. Rohis adalah instrument dakwah di mana dakwah mendekatkan diri dengan problematika umat. Rohis SMA dahulu didirikan bukan semata untuk membuat rumah sendiri bagi orang-orang suci, namun harus mampu mendekatkan diri dengan masalah siswa dan member solusi yang nyata. Dahulu saat tawiran masih marak di SMA-SMA Jakarta, rohis-lah yang secara bertahap menguranginya. Saat pemurtadan marak di daerah Wonogiri, rohis-lah yang secara bertahap member solusi dan menjadi pioneer dakwah di sana.

Saya melihat rohis SMA haruslah kembali kepada asalnya, yaitu member solusi pada para pemuda, tentunya dengan manhaj Tarbiyah yang syumul. Ada potensi besar dari para lulusan kader rohis SMA untuk menjadi pioneer dakwah di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ini bisa terjadi bila kader-kader rohis ini dibina dengan baik dan benar, bukan dengan manhaj yang mudah mentakfir dan menghalalkan kekerasan. Insyaallah bila Tarbiyah besar di SMA, maka regenerasi dakwah akan lancar, dan Indonesia akan menjadi Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur. Pada dasarnya dakwah tidak menjauhi permasalahan dan objek dakwah, karena dakwah itu mewarnai, kalaulah terwarnai itu adalah resiko perjuangan.

You Might Also Like

3 comments

  1. =D
    like this..
    bagaimana kabar rohis smp kita?

    BalasHapus
  2. rohis smp 1 sudah almarhum, begitu juga dgn imtaq nya. Hmmmm dnamika dakwah...

    BalasHapus
  3. Tulisan anda sangat provokatif. Dan tidak layak dibanggakan sebagai sarana dakwah. Hilangkan pikiran golongan2 yang ada, karena kita satu islam. Dan yag ada nyatak tak lebih sekadar fitnah yang mengadu domba

    BalasHapus

Follow My Twitter

Flickr Images