Saat Semua Berjalan Sendiri-Sendiri

08.42

Ukhuwah itu begitu indah terasa saat saya baru bergabung dalam barisan dakwah ini. Momen di bulan desember selalu menjadi waktu pembuktian bagi segenap kader dakwah, apakah nikmat dunia akan mengalahkan nilai dan proses dakwah itu sendiri. Ya, momen itu adalah suksesi kepemimpinan di tubuh mahasiswa. Bertahun-tahun lamanya kader dakwah diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah yang mulia ini.

Dahulu ukhuwah begitu terasa berbarengan dengan apa yang disebut dinamika dan profesionalisme. Dinamisnya pemikiran kader tidak menghilangkan persaudaraan diantara mereka. Di kalangan tampuk kepemimpinan benar-benar berjalan apa yang dinamakan sebagai keteladanan kepada juniornya. Dengan situasi yang sedemikian rupa, tarbiyah telah menarik perhatian saya untuk bergabung dan berjuang bersama.

Entah dengan alasan jaman yang berbeda atau memang ada kelalaian dalam proses kaderisasi, nampaknya situasi saat ini sangat tidak mengenakkan bagi dakwah itu sendiri. Dari masalah tarbawi yang terbengkalai, saat yang dibimbing membantah dan melawan sang pembimbing, saat qiyadah tidak bisa member tauladan dan wejangan, saat setiap jundi berpikir dan bertindak diluar ketentuan yang syar’i. Semuanya seolah menjadi hal yang biasa.

Saya secara pribadi masuk ke dalam barisan dakwah dengan kesadaran penuh, setelah melihat pribadi-pribadi luar biasa hasil tempaan dan didikan kawah candradimuka dalam tarbiyah. Entah apa yang terjadi sekarang, seolah semuanya berubah dengan cepat. Banyak kader dicetak dan banyak pula kader yang terbuang maupun dibuang. Situasi ini membingungkan dan menimbulkan asumsi-persepsi yang tidak sehat ditengah gerak dakwah yang semakin dinamis.

Saat amanah kampus banyak dikelola oleh kita, namun tidak sedikit yang berakhir hina, meski banyak pula yang membanggakan. Saya sendiri bingung di mana letak permasalahan dakwah ini sebenarnya, apakah qiyadah kita yang terlalu EKSKLUSIF dengan kebijakannya, apakah memang para jundinya yang malas, apakah memang karena tidak becusnya pengelolaan halaqoh kita, atau masih ada sebab yang lain.

Komunikasi adalah masalah yang cukup serius, saat qiyadah membuat kebijakan tanpa menjelaskan dan berbincang dengan jundinya yang terjadi adalah prasangka negative, kenapa begini, kenapa begitu. Ini tengah menjamu dalam jamaah kita, setiap kebijakan seolah top-down, tanpa penjelasan, sehingga membingungkan kader.

Hasilnya sangat luar biasa, para qiyadah merasa benar dengan tindakannya, para jundi pun merasa benar dengan pemberontakannya, alhasil semua berjalan sendiri-sendiri. Bulan Desember adalah bulan pembuktian, apakah ukhuwah itu masih terjaga. Setidaknya sejak tahun lalu situasi sudah sangat tidak kondusif. Beberapa qiyadah bilang, “Ini dinamisasi yang kita butuhkan.” Bagi saya ini bukan dinamisasi, tapi cenderung pengkhianatan. Pengkhianatan yang dilakukan oleh semua pihak, baik qiyadah maupun jundinya, termasuk saya sendiri. Kita berkhianat terhadap apa yang kita namakan ukhuwah.

Pengkhianatan itu terjadi bukan karena kita di barisan pendukung yang berbeda, tapi pengkhianatan terjadi karena landasan kita bertindak. Sang qiyadah telah mengabaikan keberadaan jundi dan realita dakwah saat ini. Sang jundi telah dengan gegabah bertindak dan merasa benar, padahal pengetahuannya terhapa medan dakwah masih sangat kurang. Kuncinya adalah kita saling berkomunikasi dan bertabayun satu sama lain. Saya jujur sudah nek melihat tingkah semuanya.

Beberapa tahun ini kita memang telah mengalami apa yang dinamakan degradasi kulaitas dan kuantitas, alhasil yang menjadi korban bukan hanya kader dakwah semata, namun masyarakat kampus secara umum. Masihkan kita ego dengan pendapat masing-masing. Muhammad Abduh, seorang ulama termasyur di pergantian abad 19 ke 20 berkata, Al Islamu Mahjubun Bil Muslimin, yang berarti keagungan Islam dihijab (dihalangi) oleh kekerdilan umatnya sendiri. Tidak malukah kita mengkerdilkan dakwah di depan kader dan umat.

Marilah kita bangun komunikasi lebih baik dan jangan halangi-batasi keingian kader untuk memperbaiki serta menambah kompetensi diri. Para jundi juga jangan malu-malu bertanya dan belajar pada yang lebih tua agar tidak mudah salah memahami sebuah keputusan jama’ah yang memang sering di luar akal sehat.

You Might Also Like

1 comments

  1. =(
    sedih melihat kondisi sekarang...
    memang,
    an sadari,
    semuanya terasa berjalan sendiri-sendiri...

    namun jgn salahkan kondisi yg ada tpi perbaiki kondisi dgn mempererat ukhuwah..

    An merasa ragu,
    jika kepemimpinan bem km ke depan dipegang oleh tangan2 yg tdk bertanggung jawab & menghancurkan dakwah kampus,
    ato sebaliknya,
    sungguh ironi, jika dakwah itu runtuh oleh pemangku dakwah itu sendiri?

    BalasHapus

Follow My Twitter

Flickr Images