Demokrasi dan Timur Tengah

14.39

Dunia begitu terkejut dengan revolusi yang sedang berlangsung di dunia Arab. Betapa tidak, bahkan intelejen barat macam CIA maupun Mossad Israel-pun tidak mengendus sama sekali. Ini bisa dipahami, karena revolusi ini dimulai murni oleh rakyat. Mulainya di Tunisia, seorang pedagang sayur yang protes dan membakar diri karena dagangannya digusur. Peristiwa ini menyulut protes besar-besaran di seluruh Tunisia yang akhirnya membuat Presiden Abidin Ben Ali terguling.

Tidak berhenti di Tunisia, Mesir sebuah negara yang menjadi kawan dekat AS dan Israel-pun mengalami guncangan serupa. Jutaan manusia tumpah ruah di Tahrir Square menuntut mundurnya Housni Mubarak. Seluruh dunia-pun mengalihkan pandangan ke Mesir. CNN dan media barat cenderung membela Mubarak di awal, namun gencarnya pemberitaan Al Jazeera langsung dari lapangan, membuat mata dunia terbuka. Desakan mundur pada Mubarak akhirnya keluar dari mulut para pemimpin barat, termasuk Obama.

Hampir semua tuntutan rakyat timur tengah adalah membuka kran demokrasi di negara masing-masing. Kita tahu bersama kawasan timur tengah adalah daerah di mana para pemimpin despotic menikmati surganya. Karena kepemimpinan mereka yang otoriter mendapat dukungan dari Barat yang tidak mau gerakan islam tumbuh dalam kehidupan yang demokratis. Meski barat-AS selalu menggembar-gemborkan demokrasi, namun fakta di lapangan mereka selalu mendukung tindakan keras yang dilakukan oleh para pemimpin timur tengah.

Di timur tengah hanyalah Iran dan Palestina yang menyelenggarakan pemilu dengan cukup terbuka. Adapun Lebanon masih diwarnai kekerasan berdarah antar kekuatan politik. Pada tahun 2006 Hamas akhirnya ikut serta dalam pemilu Palestina, dimana hasilnya sangat mengejutkan. Hamas keluar sebagai pemenang, lucunya AS dan eropa tidak mengakui kemenangan tersebut, hanya karena sikap politik hamas yang menentang keberadaan Israel.

Permasalahan sekarang adalah, apakah memang demokrasi menjadi sebuah temapat dan awadah perjuangan yang pas bagi aktivis islam??? Saya secara pribadai menjawab YES ABSOLUTELY. Karena paling minim resiko dibandingkan perang dan pemberontakan macam Taliban di Afghanistan dan Pakistan. Sa’id Hawwa, tokoh spiritual Ikhwanul Muslimin mengatakan, “Menolak demokrasi meruapakan langkah bunuh diri, mereka akan diperintah oleh rezim-rzim paling buruk yang memaksakan apa yang mereka takuti dari demokrasi. Kenapa harus takut berdemokrasi.”

Dalam melihat demokrasi aktivis islam selalu memandang dari sudut teoritis dan ideologis, sangat jarang memandang dari sudut realitas di lapangan. Contoh paling nyata adalah Turki. Saat ini Turki dipimpin oleh Abdullah Gul sebagai Presiden dan Tayyep Erdogan sebagai perdana menteri. Keduanya adalah pimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang merupakan anak ideologis dari Erbakan pimpinan partai Refah yang dibubarkan militer Turki pada 1997.

Aktivis islam Turki identik dengan Necmetin Erbakan, seorang insinyur yang sejak 1960-an telah berani melawan sekularisasi di Turki. Tidak tanggung-tanggung, Erbakan mengalami 4 kali tindakan represif militer Turki karena kegiatan politik islamnya. Turki yang mengeklaim negara demokratis, oleh para aktivis islam dijadikan sebagai arena percobaan, kompatibelnya demokrasi dengan islam.

Puncak represi militer adalah pada 1997, saat itu Erbakan menjadi Perdana Menteri Turki setelah Partai Refah pimpinannya mendapat suara mayoritas. Namun kebijakan Erbakan yang sangat islamis tidak disukai militer yang bertindak sebagai penjaga konstitusi sekuler Turki. Akhirnya pada 1997 erbakan dikudeta, namun inilah awal dari kebangkitan islam di Turki. Murid Erbakan, tayyep Erdogan mulai naik daun karena dipenjara gara-gara puisi-puisi islaminya. Hal itu membawa Erdogan menjadi walikota Istanbul.

Pada 2002 Erdogan bersama koleganya mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang pada pemilu berikutnya menjadi pemenang dan Erdogan naik sebagai Perdana Menteri. Berbeda dengan Erbakan yang terang-terangan menerapkan garis politik islam, Erdogan mengambil jalan tengah. Dia ambil kepercayaan dunia barat, sembari meningkatkan ekonomi Turki. Alhasil pendapatan per kapita rakyat Turki naik 2 kali lipat, sehingga Turki ambil bagian di daerah Balkan sebagai pemasok kebutuhan di sana.

Hubungan Erdogan dengan AS dan Israel terbilang mesra di awal pemerintahannya, namun memasuki tahun 2006 sampai 2008 terlihat menegang, terutama setelah kemenagan Hamas dalam pemilu dan penyerangan Israel ke Gaza. Erdogan yang mendapat panggung dalam konvensi ekonomi Davos Swiss, secara frontal berdebat dengan Perdana Menteri Israel Simon Perez. Peristiwa itu menaikkan nama Erdogan di dalam negeri dan di kawasan timur tengah. Untuk pertama kali rakyat timur tengah mempunyai idola yang bukan orang arab.

Pasca mundurnya Mubarak terlihat turki ambil bagian dengan menjalin komunikasi bersama jajaran petinggi Ikhwanul Muslimin, bahkan Presiden Turki Abdullah Gul menyempatkan diri singgah dan berdialog di markaz IM Mesir. Demokrasi telah menjadi jalan yang ta terbantahkan bagi pembebasan negeri-negeri islam. Itulah mengapa barat dan AS bersikap hipokrit menyikapi proses demokrasi di dunia arab, terutama Arab Saudi. Mesir telah jatuh, Israel saat ini sedang kebingungan. Apabila Saudi ikut jatuh atau minimal membuka kran demokrasi, bisa jadi garis politik timur tengah akan berubah dan menuju koalisi Turki-Ikhwanul Muslimin-Iran.

Mengapa Ikhwanul Muslimin dimasukkan dalam factor penting kekuatan politik timur tengah??? Karena kader-kader IM telah berdiaspora dan menetap di seluruh penjuru dunia, dari timur tengah, afrika, asia tenggara, amerika bahkan yang fenomenal jaringan IM di eropa telah membentuk sebuah kekuatan politik islam yang mempunyai wakil di parlemen eropa. Bisa jadi timur tengah menjadi ladang subur bagi kebangkitan islam, namun pertanyaan kembali muncul, sejauh mana AS, Israel dan Eropa akan ikut campur dalam demokratisasi di Timur Tengah ini. Mengingat dahulu eropa selalu dengan IKHLAS mengirimkan militer dan bantuan senjata pada para dictator yang kekuasaannya terancam, karena kalah dalam pemilu dari gerakan-gerakan islam, semisal FIS di Aljazair.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images