Demokrasi Tanpa Ekses, Mungkinkah?

12.32



Demokrasi telah menjadi sistem yang bekerja di Indonesia, namun belum juga menghasilkan sebuah kesejateraan dan keadilan bagi rakyatnya. Masalah ini diungkap dalam Dialog Publik yang bertema “Publik Membangun Demokrasi Bersih Tanpa Ekses di Jawa Tengah.” Dialog ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) di hall DPRD Jateng lantai 4 pada hari Senin (14/3), sebagai rangkaian training politik nasional.

Dalam dialog tersebut hadir 4 pembicara, Agus Riyanto (pemprov jateng), Kapolda jateng Edward Aritonang, Anggota DPRD Komisi Fraksi PKS Arif Awaludin dan perwakilan PB HMI MPO Ridwan. Menurut Agus, permasalahan bangsa ini sesungguhnya bertambah pelik pasca reformasi, karena begitu bebasnya pengaruh budaya asing yang menghasilkan sekularisme, hilangnya kearifan local dan gaya hidup yang instan. Adapun solusi menurutnya adalah dengan teladan dari para pemimpin.

Kapolda dalam pemaparannya menyampaikan bahwa polisi adalah “keranjang samaph” bagi demokrasi langsung. Karena pasca pemilu nasional maupun daerah polisi kerap menemui kerusuhan dan gesekan antar pendukung. Hal ini terjadi akibat ketidak puasan akan hasil pemilihan. Masing-masing kelompok merasa pantas menang dari yang lain, sehingga tidak ada yang mau mengalah. Hal inilah yang membuat polisi harus bekerja ekstra keras. Harapnnya adalah masing-masing kekuatan politik dan masyrakat bisa lebih dewasa dalam berdemokrasi.

Bagi Arif Awaludin, anggota dewan dan partai politik saat ini belum mendapat perhatian masyrakat secara luas. Faktor utama adalah money politik yang menjadi trend dalam pesta demokrasi. Pendewasaan demokrasi diyakininya membutuhkan waktu yang lama, karena perlu melalui situasi dan masalah yang pelik, dari sana akan didapatkan solusi. Itu pembelajaran utama bagi bangsa ini. Partai politik menurutnya perlu benar-benar melakukan proses pengkaderan dan pencerdasan politik yang serius di masyarakat. “Karena instrumen demokrasi kita adalah partai politik, bukan kerajaan.”, tambahnya.

Bagi Ridwan sendiri yang penting adalah konsolidasi dan komunikasi antar kelompok. “Menemukan persamaan dan bekerjasama atasnya menjadi lebih baik, daripada bicara perbedaan.”, imbuhnya. Pada akhirnya bangsa ini akan melewati sebuah tantangan serius, akan dibawa kemana negara ini. Jawabannya adalah pada seberapa sabar dan istiqomahnya para aktivis dan pengelola negera ini.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images