Revolusi Media: The Next Renaissance

15.54


Revolusi media menjadi sesuatu yang sangat janggal sebenarnya, namun melihat berita dan kondisi aktual, nampaknya bukan sesuatu yang mustahil. Kasus majalah News of The World milik taipan media Rupert Murdoch bisa menjadi contoh. Saya malah yakin tidak hanya menjadi contoh, namun juga menjadi awal pemicu perubahan besar.
Masyarakat tidak lagi nyaman dan begitu gampang dengan media yang punya banyak kepentingan. Liat saja Metro TV kepunyaan Surya Paloh. Sejak Paloh kalah dari Ical di pemilihan Ketum Golkar, dia tidak hanya mendirikan ormas Nasdem, namun secara membabi buta mengubah imej Metro TV secara drastis.
Lihat saja warna dan logonya yang merip dan nyerempet Nasdem. Lalu parahnya setiap kegiatan Nasdem diblow up habis-habisan oleh Metro TV dan sekarang saat Nasdem “telah” menjadi partai apakah kebiasaan Metro TV tetap berlanjut atau menjadi “netral” meski itu mustahil. Lihat saja beberapa petingginya malah “riwa-riwi” sibuk mengurus verifikasi partai nasdem. Metro TV saat ini setidaknya dicintai rakyat hanya karena mampu menyuguhkan Nazarudin.
Kita bicara TV One, mungkin bisa lebih fair, meski tak bisa lepas pengaruh Ical. Keberadaan Karni Ilyas membuat TV One tidak “dipaksa” seperti nasib saingannya di Metro TV. Belum lagi TV swasta lainnya yang hanya mampu menyuguhkan hiburan yang (MAAF), sebebarnya tidak berguna bagi keberlangsungan bangsa.
Lihatlah kondisi media portal internet kita. Jauh panggang dari api. Ideologi mencari sebanyak-banyaknya iklan telah mengorbankan sisi psikologis masyarakat. Berita yang diplintir atau fiktif sudah tidak asing lagi. Baik media online yang konvensional maupun yang mengklaim islam sama saja. Contoh lah eramuslim yang mempunyai tag line “Media Islam Rujukan”, nyatanya tidak berbanding lurus dengan kinerja dan kualitas berita. Beritanya bisa dibilang “JUNK”, karena mereka tak punya reporter profesional sendiri.
Pernah suatu saat EM membuat berita tentang kasus seorang anggota DPR. Di copy-lah berita itu, namun angkanya diubah. Tentunya substansi jadi sangat berbeda. Itulah faktanya, dendam lebih menguasai daripada menyuguhkan kebenaran.
Masyarakat saat ini terlunta-lunta di tengah hempasan kebebasan press yang begitu dahsyat. Celakanya para pemilik media ini juga tak mau rugi, mereka ambil dan jual pengaruhnya pada pemilik kepentingan, entah politisi, pengusaha dan siapapun yang membutuhkan.
Keberadaan Facebook dan Twitter sedikit banyak memberikan pencerahan. Saya berprasangka kemudian, lewat sosial media inilah akakn terjadi revolusi informasi yang akan menggeser peran media konvensional. Masyarakat dunia gelisah karena sedikit demi sedikit pemberitaan dan kelakuan penguasa yang melenceng mulai terkuak. Pling cepat menyebar bukanlah lewat koran atau televisi, namun lewat sosial media.
Timur Tegah telah merasakan dampak yang luar biasa, sampai-sampai penguasa Arab Saudi-Abdullah-(sori, ga sudi nyebut dia raja) berani menawar FB seharga 150 milyar dollar AS pada Mark Zukenberg, CEO FB. Diktator tidak lagi tumbang oleh peluru dan dinamit, namun lewat sosial media, the true weapon now.
Saat ini dengan keberadaan sosmed, masyarakat bisa bertukar dan mendapat informasi dengan cepat, tanpa menunggu koran esok pagi ataupun jam tayang televisi. Nampaknya keberadaan FB, Twitter, Youtube dan blog akan menguasai dan mengambil alih konsentrasi massa dalam proses penyebaran informasi beberapa tahun mendatang.
Di tengah krisis ekonomi dunia yang sedang mendera dan tipisnya SDA yang ada, saya yakin keberadaan sosmed semakin dibutuhkan, namun saat itulah dimulainya era keterancaman sosmed, dimana para penguasa akan menelurkan aturan-regulasi yang mengekang. Dinamika media adalah konsekuensi dari era demokrasi. Kebebasan yang bertanggungjawab inilah yang harus dijaga oleh tiap individu.
Kalaulah kita tak berharap banyak pada idealisme media-media besar, bisalah kita berharap pada para pejuang cyber yang melaksanakan gagasan idealnya memberikan informasi sejujurnya tanpa tendensi apapun, meski sulit saya tetap optimis, masa itu akan datang. Dimana dunia sudah mulai tua dan akan memasuki masa akhirnya.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images