Religius-Kapitalis Dalam Gerakan Islam

13.14



Melihat dan mengkritisi kebangkitan gerakan islam sejak lahirnya Ikhwanul Muslimin memang progresnya tidak banyak terlihat, kecuali revolusi di Timur Tengah belakangan ini. Yang patut kita lihat dengan jeli adalah sejauh mana keberhasilan gerakan islam. Ikhwanul Muslimin dalam hal ini sangat jeli melihat fakta dan realita di lapangan.
IM melihat AKP di Turki adalah sebagai contoh nyata keberhasilan gerakan islam meraih, mempertahankan dan mengelola kekuasaan dengan damai via demokrasi. Yang hal itu tidak semua gerakan islam mau dan mampu menyadari, apalagi melaksanakan. Demokrasi yang oleh beberapa kalangan gerakan islam diangap sebagai parasit dan tabu untuk masuk kedalamannya. Belum lagi yang menganggapnya haram dan termasuk kafir yang ikut di dalamnya.
Mengambil istilah dari Buya Syafii, “Mereka adalah orang-orang yang buta konteks kekinian dan masa depan”. Pendapat Buya Syafii tersebut bisa saya amini dan benarkan melihat realita kondisi gerakan islam saat ini, termasuk KAMMI.
Saya rasa KAMMI yang lahir dari rahim gerakan islam sudah lebih maju dengan berani “bertarung” dalam arena demokrasi. Namun sebenarnya tidak berhenti di sana saja. Pertanyaanya adalah, apakah hanya berkecimpung saja. Faktanya banyak aktifis dakwah dengan background pendidikan elite, ujung-ujungnya hanya menjadi broker ataupun pekerjaan yang berhubungan langsung dengan lembaga underbow sebuah harokah.
Kondisi ini sangat memprihatinkan. IM telah mengevaluasi ini dan belajar dari AKP. Adalah keberhadilan timbul dari sisi religiusitas dan kapasitas diri yang terepresentasi dari profesionalitas di bidangnya dan kemampuan ekonomi yang terlihat dari penguasaan kapitalnya. Hal tersebut yang terlihat jelas di AKP. Sebuah partai pimpinan Erdogan dan Abdullah Gul yang dibesarkan oleh “Macan-macan Anatolia”, sebuah sebutan bagi kaum borjuis yang lahir dari muslim kelas menengah yang cerdas.
Saat ini keberhasilan AKP membangun Turki tidak lepas dari peranan kader-kadernya yang bergerak di bidang profesional dan topangan dana dari kader AKP sendiri yang kuat secara finansial. Saya ingin katakan bahwa AKP telah berhasil mengimplementasikan sebuah gerakan RELIGIUS-KAPITALIS.
Kita seolah-olah alergi dengan kapitalis, padahal setiap hari kita bersentuhan dan membutuhkannya. Erdogan cs. Telah berhasil mengadopsi sistem kapitalis dalam ruh perjuangan, sehingga minimal bisa menghindari tindakan korptif yang merugikan negara. Itulah yang saat ini masih sangat kurang di Indonesia.
KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang berbasis islam belum mampu mentransform kader maupun alumninya untuk menjadi macan-macan Anatolia-nya Indonesia. Ini yang wajib menjadi evaluasi serius, bagaimana diaspora kader-kader KAMMI sampai saat ini.
Apakah kader hanya menikmati sisi religius saja tanpa bisa menggapai sisi kapitalis yang sebenarnya merupakan kewajiban. Perlu dicatat, tidak ada satu begarapun yang benar-benar lepas dari perdagangan bebas, termasuk Iran. Artinya bila sejak muda atau mahasiswa kita tidak digembleng dan dihadapkan pada sebuah realita-dimana kita dituntut tidak hanya profesional, namun juga punya modal- kader KAMMI tidak akan punya pengaruh signifikan dalam mengelola negara.
Benarlah kata Anis Matta bahwa setiap aktivis dakwah harus mampu menjadi pengusaha, itu menjelaskan dari segi kapital. Yang tak boleh lupa setiap dari aktivis dakwah harus menguasai dan profesional di bidangnya. Sekali lagi AKP turki telah berhasil menggabungkan dan melaksanakannya.
Bukankah masyarakat umumnya menginkan bukti, bukan sekedar janji dan ayat suci. Kita setiap aktivis KAMMI adalah manifesto dakwah itu sendiri. Bila kita gagal dan terpuruk, tak mampu menunjukkan pada masyarakat agungnya dakwah, maka gagal-lah dakwah itu sendiri. Dakwah tidak lagi hanya hal-hal formal, namun kiranya kader KAMMI mampu mewujudkan substansi di tengah-tengah masyarakat, secara otomatis dakwah itu membumi.
Ibnu Dwi Cahyo, SH
Kadept Ekonomi KAMMI Semarang

You Might Also Like

1 comments

Follow My Twitter

Flickr Images