Karena Aku Seorang Laki-Laki

13.48

Semarang siang ini tak begitu panas seperti biasanya. Mendung serta angin semilir membuat suasana seperti kota Bandung. Ah kalau ingat kota Bandung, banyak hal yang ingin aku lakukan di sana.

Insyaallah esok hari ditanggal 15 Desember 2013 aku akan melangsungkan pernikahan di Bekasi. Proses ini berjalan sejak akhir September 2013. Tidak ada niat sebelumnya untuk menikah, namun dalam renungan dan doa Allah memberikan tanda sebaliknya.

Aku tak ingin bercerita bagaimana proses sampai akhwat tersebut bersedia menerima, tentunya dengan bantuan keluarga dan murobbinya (guru). Dalam proses ini, aku melihat ada sesuatu yang begitu berharga, yaitu niat dan keberanian.

Aku seorang laki-laki dan pastinya laki-laki dalam posisi ini berbeda dengan wanita. Seorang wanita menang dalam menolak, namun agak sulit memilih, bahkan tidak bisa memilih dalam banyak kasus. Berbeda dengan laki-laki yang identik dalam posisi menang memilih, namun harus siap ditolak. Hal ini setidaknya aku sadari setelah aku memberanikan diri untuk "melamar".

Begitu banyak kejadian dan peristiwa yag membuat seorang anak manusia jatuh dalam lubang penyesalan yang begitu dalam. Dalam beberapa kasus seorang laki-laki akan menyesal luar biasa saat wanita yang disukainya menikah dengan orang lain.

Penyesalan akan semakin dalam bilamana laki-laki tersebut tak pernah dan tak sempat "melamar wanita yang disukainya. Disinilah seorang laki-laki harus membuang jauh-jauh ego dan rasa takutnya. Dalam posisi sudah dewasa, seorang laki-laki menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Penyesalan selalu meninggalkan rasa pedih yang mendalam. Keberanian seorang laki-laki harus mengalahkan segala rasa takut dan rintangan di depannya. Kenapa harus berani? Menikah adalah ibadah yang besar dan setan dengan segala cara akan menghalangi ibadah sakral tersebut.

Setan dengan segala cara akan memberikan rasa takut dan rasa ragu dalam menempuh proses pernikahan. Meluruskan niat begitu sulit, apalagi halangan datang dari keluarga maupun lingkungan terdekat Keberanian melamar saja membutuhkan proses yang sangat panjang dan menyerap banyak energi.

Entah bagaimana cara orang lain mengumpulkan keberanian dan ketekatan niat yang bulat untuk maju melamar. Niat yang bulat tidak serta merta membuat seorang laki-laki berani langsung berhadapan dengan seorang wanita yang akan dilamarnya. Ada yang hanya berani ngomong dan curhat dengan orang lain, ada yang akhirnya tekad itu hanya menjadi tekad saja tanpa dibuat menjadi nyata.

Sekali lagi, setan tidak ingin seorang muslim "terjebak" dalam ibadah melengkapi setengah agamanya. Rasa takut dan ragu laki-laki lebih mendominasi. Keraguan tidak mendapat rejeki yang layak pasca menikah dan rasa takut berbagai macam membuat kendor niat dan keberanian untuk menikah.

Banyak juga teman dan sodaraku yang secara materi berkecukupan sampai saat ini belum kunjung menikah. Aku juga tak tahu alasan persisnya, namun ada yang sudah bertunangan lantas batal pernikahannya, sampai ada yang masalah masa lalu masih sulit dihilangkan.

Itulah setan, tipu dayanya begitu besar dan sering menutup hati kita, bahwa pertolongan Allah sebenarnya lebih besar. Setan berhasil membuat Nabi Adam dan Hawa turun dari surga ke bumi. Padahal Nabi Adam begitu dekat dengan Allah. Ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai manusia biasa, bahwa ketekatan bulat untuk menikah tidak cukup, dan keberanian harus dikumpulkan, setidaknya untuk melawan rasa takut dan ragu yang disebar oleh setan.

Jujur dalam proses menunggu akad pernikahanku ini, beberapa rasa ragu tiba-tiba muncul. Apa benar orang seburuk aku ini bisa berjodoh dengan seorang akhwat solehah. Pikiran itu berkali-kali datang dan jawaban itu juga datang. Bisa jadi inilah jawaban dari Allah atas doaku yang menginginkan pendamping yang bisa membawaku hidup lebih baik dan dekat padaNya.

Aku sebisa mungkin berprasangka baik pada segala takdir yang telah berjalan. Karena aku yakin bahwa Allah mengikuti prasangka hambaNya. Murobbi calonku juga mengingatkan bahwa akan banyak halangan dan cobaan yang datang sebelum kami benar-benar menikah.

Beberapa hari yang lalu calonku baru sembuh dari penyakit campak. Aku sendiri baru sembuh dari tipes dan radang tenggorkan. Belum lagi "gangguan" pikiran dan ide-ide aneh yang berseliweran di otakku. Setan benar-benar sedang berjuang menebar rasa ragu dan rasa takut. Aku berprasangka baik bahwa pasca menikah Allah akan melipatgandakan rejeki kami nantinya.

Pada akhirnya saat aku menuliskan ini, aku dalam kondisi insyallah siap dunia akhirt dan lhir batin untuk membentuk keluarga samarah. Insyaallah keyakinan ini akan menuntun ke lembah jannah nantinya, semoga. Bismillah... (IDC)


You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images