Nasehat Untukku dan Untukmu Sobat

16.31

Sore ini Semarang begitu dingin, dengan hujan gerimis yang menemani. Aku sendirian di sebuah ruang memikirkan tentang kita di masa depan. Kita ini adalah aku dan kamu sobat.

Sebentar lagi mungkin aku akan mengenang masa-masa kebebasan seorang lelaki dalam menentukan pilihannya dalam bergaul. Sebentar lagi aku menjadi lelaki yang harus mau mendengar apa kata pasanganku. Aku hanya akan bisa mengenang masa-masa penuh canda tawa itu.

Sobat, mungkin selama ini aku banyak bersikap tak patut terhadapmu dan kawan-kawan lain. Sungguh, tak ada niat dalam diri ini untuk sengaja menyakitimu. Sobat, kita bersama dalam waktu yang lama dan aku telah menganggapmu/kalian sebagai sodaraku, dimana resah gundah dan curiga aku ceritakan pada kalian.

Akan kuingat masa dimana aku tak betah lagi tidur di rumah. Selepas pulang kantor tanpa mandi sore langsung saja aku mampir singgah dan tidur di tempat kalian. Akan aku ingat masa-masa dimana kita asyik bercanda sampai tengah malam membicarakan kita, harta, wanita. Hah dasar anak muda yang larut dalam dunia.

Aku rasa semua ini wajar saja. Sobat, aku hanya ingin pertalian sodaraku kita terus berlanjut, walau waktuku akan lebih banyak tersita untuk istriku nanti. Aku ingin suatu saat kita berkumpul dan bercerita nostalgia masa lampau, betapa indahnya itu.

Sobat, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku ini. Apakah semua diantara kita bahagia, atau masih ada yang gundah dan resah memikirkan masa depan dan masa lampau. Sungguh aku hanya bisa berharap dan berpesan, bahwa Allah punya cerita dan skenario yang luar biasa. Asalkan kita percaya dan punya prasangka bahwa Dia akan memberikan yang terbaik.

Yang terbaik tak selalu yang tercantik, terkaya, termegah dan serba dihitung-dilihat secara kasat mata. Bisa jadi Allah menyiapkan skenario yang lebih dahsyat dari film Korea. Yang bila kita alami dan jalani, insyaallah kita tak akan berhenti menangis bersyukur atas segala karuniaNya.

Sobat, dalam doaku dan dzikirku aku ingin kita semua bahagisa dunia akhirat. Bahagia yang membuat kita terus ingat padaNya. Bahagia yang membuat kita bisa berbagi tawa, canda dan harta untuk sesama. Semua adalah titipan dariNya. Kita bekerja keras untuk mewujudkan sesuatu yang membuat kita bahagia, walau belum tentu baik di mataNya.

Sobat, aku memohon doa darimu untukku nanti bisa membahagiakan bidadari yang sudah dipilihkan olehNya. Aku masih merasa tak pantas untuk mendampingi seorang akhwat solehah. Namun Sang Sutradara punya kisah lain untukku. Aku yakin dan semakin yakin bahwa sesuatu yang besar sedang menungguku di depan dan aku harap kalian bisa bersamaku kelak, untuk berjuang menegakkan kalimat Allah dan mewujudkan kebahagian bagi semuanya.

Sobat, semoga kita bisa terus berpelukan bersama dalam pohon yang tertancap ke bumi dan berujung ke surga. Semoga...(IDC)

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images