Banyu Biru Bukan Wajah Intelejen Kita

09.47

Sumber: infospesial.net
Gegara upload foto pengangaktan sebagai "orang" BIN (Badan Intelejen Negara), Banyu Biru membuat heboh dunia persocmedan. Dan tentunya dunia intelejen. Padahal sesungguhnya setiap orang yang bekerja sebagai intel, harus melakukan tugasnya dengan senyap, kalau berhasil belum tentu dapat apresiasi, namun bila gagal harus siap dicaci.

Intelejen ini di Indonesia memang identik dengan BIN, walau sebenarnya tugas intelejen ini juga dilakukan oleh lembaga lain seperti Lembaga Sandi Negara, TNI, Polri, Kejaksaan bahkan kementrian.

Inti dari tugas seorang intel salah satunya adalah mengumpulkan informasi. Jaman teknologi masih serba analog, intelejen sangat identik dengan film James Bond. Tugas dan aksi seorang intel selalu dikaitkan dengan novel karya Ian Fleming tersebut.

Namun sebenarnya tak melulu soal "action". Contohnya ada  intel yang bertugas di perbatasan Papua dan Papua Nugini. Sebagai seorang intel tugasnya jauh seperti bayangan dalam film James Bond. Dia bertugas mendeteksi kondisi perbatasan.

Masyarakat Papau di sana diidentifikasi belum mempunyai KTP Indonesia. Bukan masalah sepele, karena "perang" perbatasan ini adalah perang identitas penduduk setempat. Bila Papua Nugini lebih dulu memberikan KTP pada penduduk perbatasan, ini akan menjadi salah satu alasan klaim perubahan perbatasan nantinya.

Lalu intel ini entah bagaimana caranya harus bisa menyebarluaskan KTP pada seluruh penduduk Papua di perbatasan, namun tentu tak semudah yang dibayangkan.

Namun dunia terus berubah, kini intelejen "konvensional" ini harus belajar juga bagaimana menghadapi teknologi informasi komunikasi yang semakin maju. Di Indonesia Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dikenal dengan kemampuan ini.

Tugasnya antara lain menyapu penyadapan, mengembangkan teknologi enkripsi dan mengamankan komunikasi pejabat negara. Tentu itu yang diketahui, yang tidak diketahui jauh lebih banyak.

Membayangkan bagaimana mencuri informasi di era digital sekarang ini, benar-benar mudah. Alat-alat "khayalan" di film-film sejatinya benar-benar ada. Menyadap pembicaraan orang, mengambil alih kontrol gadget seorang pejabat dan membuat percakapan palsu, semua bisa dicreate secara digital. Lalu bila intel kita tidak siap bagaimana? Insyaallah intel "konvensional dan digital" kita sudah modern.

Prestasi tak perlu dipublish, namun kegagalan dan bocornya operasi memang selalu jadi santapan pembaca dan redaksi berita. Dan yang pasti, Banyu Biru bukanlah wajah intelejen kita.

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Flickr Images