Kenapa Saya Memutuskan Mengoleksi Jam Tangan

22.08




Dalam hidup setiap manusia ada satu atau beberapa hal yang disenangi. Karena disenangi, maka ada pengorbanan khusus, bila suka dengan barang maka akan mengorbankan materi untuk mendapatkannya, kata lain mengoleksi.


Dua tiga bulan ini saya memutuskan untuk menjadi seorang “kolektor” jam tangan. Ga banyak yang saya punya sekarang. Ada sekitar 22 jam tangan yang saya punya saat ini. Lalu bagaimana perjalanan sampai saya memutuskan membeli banyak jam tangan dan tidak dijual lagi? Begini ceritanya..

Sebelum menyukai jam tangan, saya relatif abai dengan jam tangan yang saya pakai, entah ke kantor maupun bertemu klien bahkan saat live di televisi. Saya cendeung suka gonta ganti smartphone dan membeli tablet, sudah bosa saya kadang berikan ke ponakan.

Saat waktu bersamaan saya juga menyukai tas. Karena istri suka banget dengan tas fossil, jadilah saya ketularan. Tapi saya lebih parah, malah beli tas tumi yang bisa dapat motor vario second, ampun bener deh. Lalu saya beli tas kecil-kecil lainnya dengan rentan harga 300 ribu sampai 1 juta rupiah.

Selain tas, saya sempat gila dengan dompet. Dompet fossil sudah beli, brodo juga, diikuti dengan dompet lokal lain yang berbahan kulit asli. Dan akhirnya berhenti  juga saat sudah beli dompet fossil.

Smartphone maupun tablet relati punya keterbatasan waktu. Mungkin dalam satu tahun masih bisa mengakomodir teknologi terbaru, namun saat sudah 2 tahun lebih pasti terasa sudah lemot dan saat dijual lagi relatif ga laku. Mau dikoleksi juga rasanya jadi ga berguna. Saya sempat menyimpan beberapa smartphone BlackBerry yang saat beli 7,2 juta dan dijual 500 ribu sajah, ampun dah..

Tas, karena saya suka berbahan kulit, jadi ada beberapa kejadian yang membuat saya sampai hampir nangis, hahaha. Paling nyesel saat bawa tas tumisaratoga yang kulit naik motor jam 11 siang. Dan you know, gosong deh kulitnya. Dibawa ke GI dan PI ga ada yang sanggup benerin. Akhirnya saya usap-usap terus memakai mink oil dan kain halus bisa kinclong, walau tak kinclong seperti dulu lagi.

Dompet? Beuh dompet fossil baru setahun aja sudah rusak ini vetter nya dan warna kulitnya mulai pudar, padahal beli di urban icon, jad alsi kan ya. Jadi sempat saya hilang semangat mau koleksi barang apa/

Sampai entah bagaimana, saat istri hamil, malah saya suka beli-beli jam. Awalnya saya iseng lihat video youtube jam-jam homage. Homage adalah sebutan untuk merek jam yang modelnya meniru jam terkenal, tapi memakai merek sendiri. Contohnya ada Parnis, Tevise, Tisell dan Alpha yang desainya banyak meniru jam terkenal seperti Rolex dan Omega.

Saat itu saya langsung membeli jam Tevisi 801t dari gearbest.com yang modelnya seperti Rolex Submariner, salah satu jam legendaris di dunia.

Lanjut saya penasaran ke tokopedia. Saya cari jam Skmei yang dikenal sebagai jam murah dengan kualitas bagus, jam ini dari China. Dan saya khilaf beli lebihd ari 10 biji, ada buat keponakan, istri juga mertua.

Karena terus menerus melihat Youtube, akhirnya saya tertarik membeli jam mekanik atau automatic yang tidak memerlukan baterai, salah satunya Tevise yang saya beli di gearbest.com tadi.

Berlanjut akhirnya saya membeli jam fossil automatic di web jamtangan.com dan terus saya berburu di web tersebut, sampai akhirnya penasaran perburuan dilanjutkan ke tokonya di Plaza Blok M.

Sempat sebelum menjadikan jamtangan.com (machtwatch nama tokonya) sebagai referensi utama komparasi jam tangan, saya sempat membeli jam fossil dan Tissot secara bersamaan, rasa khilaf yang tak tertahankan.

Namun akhirnya saya terus belajar dan menemukan bagaimana menentukanjam tangan yang benar-benar saya butuhkan, tidak sekedar suka saja. Perburuan terakhir sebelum saya menulis ini jatuh pada Orient Classic Small Seconds dan jam tangan legendaris Seiko Alpinist.

Sayapun menemukan ada kebahagian saat berburu jam tangan, memandangi koleksi jam tangan yang tertata rapi di box, juga saat membersihkannya. Berbeda dengan smartphone yang relatif harus terus berganti, jam tangan asal kita merawat dengan betul, akan sangat awet. Untuk jam automatic bisa diservis setiap 5-10 tahun. Jam quartz beerenergi baterai bahkan tidak perlu diservis selama tidak rusak.

Setiap jam memilik filosofi masing-masing. Saya berburu setiap histori jam yan saya miliki. Ada chemistry yang terbangun disana. Jam seperti Seiko dan Orient misalnya memiliki cerita sendiri. Berbeda dengan Fossil yang lebih menonjolkan fashion, brand jam tangan yang benar-benar besar di industri jam tangan seperti Seiko dan Tissot sangat memperhatikan kualitas movement (mesin penggerak pada jam tangan).

Saya mulai belajar bagaimana memakai jam. Kapan harus memakai dress watch, kapan harus memakai jam dengan bracelet stainless steel. Benar kata orang, jam tangan memperlihatkan bagaimana seseorang memantaskan dirinya. Dan sekarang saya sedang belajar memantaskan diri menghadapi dunia lewat jam tangan..

Dan semoga waktunya datang untuk mewujudkan impian memiliki Rolex, Omega, Patek Philippe, Audemars Piguet, beserta kawa-kawannya..

You Might Also Like

0 comments

Follow My Twitter

Fan Pages Facebook